Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Mencintai Diri (Sendiri)

Awalnya kupikir bahwa sendiri itu selalu identik dengan sepi. Hanya diri yang perlahan dibaluti sunyi. Tanpa dia. Tanpa mereka. Tanpa siapa-siapa. Ocehan diri tak tahu akan disodorkan kemana dan kepada siapa. Hingga akhirnya terpendam begitu saja dan termakan oleh masa. Namun, nyatanya saya salah. Ternyata ini bukan perkara karna tak memiliki siapa-siapa. Tetapi, masalah diri yang belum  bisa berteman baik dengan kesendirian yang melanda. Sebab, perlahan kupahami bahwa walau sendiri bukan berarti tak bisa berbuat apa-apa. Belakangan ini harus kuakui pula bahwa prasangka kuat menghantam diri. Sikap diamku diambil alih oleh fikiran dan hati yang berceloteh tak terkontrol. Alhasil, membuahkan praduga yang sebenarnya menyiksa diri sendiri. Rasa khawatir, rasa bersalah hingga buruk sangka menjadi virus amat merugikan. Saat pihak lain malah mengabaikan dan fokus menyibukkan diri, saya malah berperang dengan diri sendiri. Begitu bodohh.  Yah. Salah. Lagi-lagi rasanya ingin...

Maghrib

Sebagaimana mestinya dipenghujung hari, semesta akan selalu ditutup dengan permisinya sang surya, untuk kemudian kembali ke singgasananya usai menjalankan tugas sebagaimana anugrah yang dimilikinya. Kepergiannya yang kerap diringi panorama jingga nan indah seakan mengisyaratkan harapan akan tetap kembali untuk esok hari. Lantunan azan maghrib selain sebagai pertanda seruan ibadah guna meraih kemenangan tetapi, juga sekaligus sebagai penutup hari dan tak ada kata kembali untuk itu. Pertanyaannya kemudian ialah, telah sejauh mana hari-hari yang telah berlalu diselaraskan dengan pemanfaatan diri yang maksimal? Dan telah berapa kesempatan yang terpampang menawarkan diri untuk diambil tetapi justru teracuhkan dan dibuang sia-sia? Maghrib acap kali menjadi momen dimana lemparan penyesalan dan pertanyaan amat kuat menghujam jiwa. Fikiran seakan menjadi monitor dengan menayangkan kembali perbuatan yang telah dilakukan dalam mengisi hari. Perbuatan sia-sia dan perbuatan dosa terakum...

Sekilas Ketikan #1

Larut Langkah kaki terdengar jelas dari sang hawa Bentangan kerikil menjadi pemicu utama selaku pijakannya Derai rintik hujan bak alarm peringatan tanpa tawa Agar langkah itu mempercepat diri segera Berbeda dengan kemarin Terik matahari   bukan lagi menjadi kawan seperjalanan Kini panas terik tlah berganti menjadi hujan rintikkan Menerpa hingga membasahi diri tanpa permisi tak tertahan Namun, ada yang tak berbeda dari kemarin hingga kini Perasaan dan fikiran masih enggan tuk enyahkan diri Agar sedih dan kecewa lekas menyegerakan pergi Segalanya larut tak tentu arah hingga hanya diam dan sepi Jawaban Ungkapan kata tak selamanya menjadi jawaban Bibir tak selalu mampu bisa berucap Kesempatan tak jarang kerap dibuang sia-sia Bahkan hati tak enggan bersahabat dengan bimbang Saat diri mengharapkan kepastian Semesta justru memberikan teka-teki disertai candaan Rentetan tanya hangus tanpa jawab kesungguhan Hingga hanya prasangka sebaga...

Hello 2016

Setiap peristiwa selalu memiliki kisahnya tersendiri. Namun, tentu ada beberapa peristiwa yang menyisakan bekas mendalam lebih dari yang lainnya. Fikiran akan lebih cepat dan tajam untuk mengingatnya dan hati seolah memiliki lonceng untuk   memanggil kembali akan rasa yang dulu ada. Yah memanggil. Namun, ini untuk sekedar menyadari bahwa hal bersangkutan pernah terjadi dan bukan untuk dijalani kembali. Waktu memang seluarbiasa itu, berjalan tanpa menoleh sedikitpun terhadap apa yang telah dilewati. Semakin panjang sang waktu melangkahkan kaki, secara perlahan semakin terselubungi pula luka-lukaku oleh obat yang namanya terbiasa. Tahap demi tahap terbiasa untuk menyadari bahwa tak semua hal dapat dimiliki dan tak semua hal akan bertahan sehingga kata perpisahan mau tak mau bisa datang kapan saja sebagai tamu tak diundang. Tapi tak apa sebab, kini semuanya sudah ternilai biasa saja (mungkin). Meskipun itu, walau waktu memang tak akan menoleh apalagi kembali, tetapi akan selalu ad...

Benar

Benar. Kata menyerah itu tak dipungkiri acapkali mampir memperkenal diri. Berbagai opsi memiliki peluang yang sama besarnya. Menyerah terhadap keadaan, menyerah terhadap orang-orang sekitar hingga menyerah kepada diri sendiri. Benar. Diri ini lemah. Lemah dalam mencoba menguatkan diri sendiri. Lemah dalam meyakinkan hati untuk tak mudah remuk akan berbagai terpaan rasa. Lemah dalam menjernihkan pikiran untuk reda dari bayang berkecamuk. Lemah menyadari bahwa segala sesuatu tiada yang luput dari kehendakNya demi kebaikan hambaNya. Haha dan benar. Ternyata memang air mata adalah bagian dari makna yang sudah tak mampu diungkapkan oleh kata dan kepada siapa-siapa. Sungguh benar. Segala hal sepatutnya memang terlebih dahulu harus dimulai dengan niat untukNya demi berkahNya diakhir nanti. Yahh benar. Segala yang terjadi meskipun buruk akan tetap diselingi kebaikan di dalamnya. Kebaikan dalam suatu hikmah jika diri mengimani lalu kemudian memetiknya. Buah dari hikmah itu ranum. Mak...

Ocehan Perdana U-20

*tarik napas..hembuskan* Btw hari ini umurku sudah 20 tahun lebih sehari. Sisanya tak banyak yang berubah. Aktivitasku berjalan seperti biasa. Melewati setiap waktu dengan diselingi berbagai hal. Baik itu yang terduga maupun tidak sama sekali. Sebab, memang kehidupan memiliki apa yang dinamakan dengan 'misteri' disalah satu bagiannya bukan? Sampai saat ini, sudah terlalu banyak peristiwa. Kasus pembullyan Audrey hingga fakta-fakta yang kemudian terkuak dibaliknya, drama pilpers yang bahkan saat ini belum menentukan secara pasti siapa presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 hingga BBM yang kemudian pamit bersama kenangan berkesan bagi setiap penggunanya, termaksuk saya hiks. Yeahh Good bye :'( Lalu seberapa erat semua itu dalam kaitannya denganku?? Hmm mungkin tidak seberapa. Saya hanya penonton. Melihat dan mengamati untuk kemudian memahami. Manusia selalu memiliki berbagai cerita yang kemudian melahirkan tanggapan dari manusia lain dan bahkan kerap kali hal te...

Ragam Makna di Balik Hujan

Siang hari ini, matahari tak begitu terik. Sebagaimana hari-hari libur,  tak banyak yang mengisi aktivitas produktifku di rumah. Kubaringkan kepala dibantal dengan berbagai isian dalam otak mungilku disertai perasaan yang saya sendiri sulit mendeskripsikannya. Fikiran dan perasaan yang mulai menampakkan hadirnya sejak beberapa hari lalu.  Berbaring diujung ranjang yang dekat dengan jendela kaca, begitu jelas memperlihatkanku bagian luar rumah dengan jemuran pakaian sebagai ornamennya (?) Titik-titik air hujan perlahan ikut berpartisipasi dengan saling menjatuhkan diri. Hujan bak alarm peringatan agar manusia menyegerakkan diri mengambil jemuran cucian yang tidak mau sia-sia untuk basah kembali. Setiap orang memiliki penilaian masing-masing terhadap hujan. Ada yang suka, tak suka, maupun biasa saja. Penilaian ini kadangkala juga dipengaruhi dengan situasi dan kondisi orang-orang bersangkutan, yakni sampai sejauh mana hujan ini berefek pada diri seseorang ters...

Terpaan Rasa

Entah sudah berapa lama ... Saya kembali memikirkan akan berbagai rasa Khususnya, rasa   yang belakangan ini menerpa melalui lamuan ft. kehaluanku malam ini Situasi dan kondisi serta orang lain menjadi andil besar akan timbulnya rasa itu Kita mungkin bisa merencanakan berjumpa dengan seseorang tertentu Tapi tidak sepenuhnya kita bisa mengontrol situasi & kondisi sebagaimana kehendak diri     Alhasil, jangan heran resah dan kecewa akan hasil   penantianmu Sebab, semesta memang suka bercanda bukan ? Kurang lebih kutipan itu yang masih melekat diingatanku Bumbu-bumbu kehidupan memanglah demikian adanya Sedih, senang , marah, cemburu, jenuh, galau itulah wujudnya   Kita berpijak pada roda kehidupan tanpa ketidakpastian dan kekekalan Jika hatimu gundah, fikiranmu suntuk dan jiwamu resah Maka percayalah, bahwa kamu sedang dinanti pada pijakan rasa lainnya Lalui dengan sabar syukur dan shalat dalam mengakhirnya So , justru jan...