Langsung ke konten utama

Sekilas Ketikan #1


Larut
Langkah kaki terdengar jelas dari sang hawa
Bentangan kerikil menjadi pemicu utama selaku pijakannya
Derai rintik hujan bak alarm peringatan tanpa tawa
Agar langkah itu mempercepat diri segera

Berbeda dengan kemarin
Terik matahari  bukan lagi menjadi kawan seperjalanan
Kini panas terik tlah berganti menjadi hujan rintikkan
Menerpa hingga membasahi diri tanpa permisi tak tertahan

Namun, ada yang tak berbeda dari kemarin hingga kini
Perasaan dan fikiran masih enggan tuk enyahkan diri
Agar sedih dan kecewa lekas menyegerakan pergi
Segalanya larut tak tentu arah hingga hanya diam dan sepi

Jawaban
Ungkapan kata tak selamanya menjadi jawaban
Bibir tak selalu mampu bisa berucap
Kesempatan tak jarang kerap dibuang sia-sia
Bahkan hati tak enggan bersahabat dengan bimbang

Saat diri mengharapkan kepastian
Semesta justru memberikan teka-teki disertai candaan
Rentetan tanya hangus tanpa jawab kesungguhan
Hingga hanya prasangka sebagai satu-satunya patokan

Tak berselang lama
Situasi mulai menghembuskan kode bermakna
Jawaban tersirat pun mulai beterbangan tak terhingga
Bahwa sesungguhnya kita telah jauh berpisah secara realita

Apa Kabar Wahai Hati ?
Apa kabar wahai hati ?
Apakah siang masih memberikanmu berbagai coretan kepedihan ?
Mampukah malam menjadi selimut untuk kembali menghangatkanmu?
Telah berapa kali terik sang surya memanasi guna menjerumuskanmu  ?
Bisakah kau manfaatkan rembulan sebagai teman renunganmu?

Apa kabar wahai hati ?
Ribuan tanya biarkan tersodor begitu saja
Namun  izinkan satu jawaban mewakili semua itu
Bahwa dirimu mampu mengatasinya dan akan baik-baik saja 
Iya memang tak mudah tapi bukan berarti tak bisa bukan ? :)

Ketika
Kadang  akan ada saatnya. . .
Ketika perbuatan kebajikan kamu seolah tak ternilai
 Senyuman kamu tak terbalas
 Ungkapan sapa kamu seolah tak terdengar
Bahkan kehadiranmu yang pernah seolah tak pernah ada
Entah apa sebaiknya dilakukan untuk ke depannya
 Berbalik arah kah untuk bersikap acuh tak acuh
Atau bahkan tetap dalam situasi demikian
 Dengan mencoba menampakkan diri
Bahwanya sebenarnya ada


Jangan
Jangan sedih
Karena saya akan ikut terlarut akan itu
Tanpa memiliki bahagia untukku berikan padamu

Jangan sepi
Karena saya akan ikut terbawa arus itu
Tanpa memiliki  sekapsul pun keramaian untukku bagi padamu

Jangan bimbang
Karena saya akan lelah menerka-nerka terhadap itu
Tanpa memiliki jawaban untukku sarankan padamu

Jangan biarkan jendela dirimu memberi izin
Untuk segala keterpurukan masuk dan menyelinap
Jangan biarkan bahagiamu lenyap sia-sia
Untuk segala ketidakpentingan yang  berujung merugi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANDA

Tidak ada alasan, juga bisa jadi alasan. Sampai pagi ini, rasanya masih tidak nyaman. Saat dimalam beberapa hari lalu merasa “memiliki”. Pagi setelahnya seakan memutar balikan skenario yang sebelumnya sudah kuanggap nyata. Memulai lagi, dari nol. Sesuatu yang malamnya kuyakinkan jadi sisa satu-satunya alasan bertahan. Sekilas, paginya hilang berangan. Pertanda. Satu kata yang ikut muncul mencocokologi keadaan. Kata yang entah beberapa kali ditekankan   dari buku The Alchemist by Paulo Coelho. Buku yang sementara ku baca dan masih berada di halaman 91. Menceritakan seorang pengembala domba dalam petualangan mencari harta karunnya. Membaca pertanda Saat petunjuk yang tidak selalu dalam bentuk penjelasan terang-terangan. Melainkan kode atau sebatas pertanda yang memang butuh beberapa kali terurai dan menunjukkan diri dalam berbagai bentuk. Baru kemudian perlahan dimengerti maksud tujuannya. Diceritakan, Si Pengembala masih terlibat dalam uraian pertanda yang jadi bagian dala...

BUKU PINK

  Happy Weekend! Libur sehari yang besoknya berlanjut Minggu rasanya HAPPY! Walau ditunjukan bukan dengan ekspresif sumringah ataupun bukan disambut rencana spesial tertentu. Tapi, hanya dalam to do list sederhana untuk diri sendiri. Saat ini harusnya kulakukan dengan mengejarkan to do list prioritas terakhirku yang malam sebelumnya telah kutulis sebagai bentuk rencana. Dengan niat awal ingin mengerjakan file yang berisi format rencana plan Septemberku, sambil mengambil buku pink lamaku. Berpikir barangkali ada catatan terdahuluku yang terlupa tapi bisa jadi bahan yang relate dengan rencana September 2025 ku. Menyalakan laptop, memasang earphone, dan terdorong sebagai playlist yang pertama mulai menyetel lagu Sal Priadi. “Dengan kekuatan bulan yang paling baik Harapanku besar dunia kembali asik Kelak langit terang aku bisa terbang Juga mesti mendung tetap coba tuk berkunjung Lari kehadapan orang yang ku sayang Tuhan bolehkah ini yang aku perjuangankan...” ” Audio by earp...

Besok Senin!

Minggu malam yang cukup melow. Diantara paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun melow! Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya, tebakku. Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang. Mencuci muka dengan facial wash gantle ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan.. Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen disaat membangun c...