Larut
Langkah
kaki terdengar jelas dari sang hawa
Bentangan
kerikil menjadi pemicu utama selaku pijakannya
Derai
rintik hujan bak alarm peringatan tanpa tawa
Agar
langkah itu mempercepat diri segera
Berbeda
dengan kemarin
Terik
matahari bukan lagi menjadi kawan
seperjalanan
Kini
panas terik tlah berganti menjadi hujan rintikkan
Menerpa
hingga membasahi diri tanpa permisi tak tertahan
Namun,
ada yang tak berbeda dari kemarin hingga kini
Perasaan
dan fikiran masih enggan tuk enyahkan diri
Agar
sedih dan kecewa lekas menyegerakan pergi
Segalanya
larut tak tentu arah hingga hanya diam dan sepi
Jawaban
Ungkapan kata
tak selamanya menjadi jawaban
Bibir tak selalu
mampu bisa berucap
Kesempatan tak
jarang kerap dibuang sia-sia
Bahkan hati tak
enggan bersahabat dengan bimbang
Saat diri
mengharapkan kepastian
Semesta justru
memberikan teka-teki disertai candaan
Rentetan tanya
hangus tanpa jawab kesungguhan
Hingga
hanya prasangka sebagai satu-satunya patokan
Tak berselang lama
Situasi mulai
menghembuskan kode bermakna
Jawaban tersirat
pun mulai beterbangan tak terhingga
Bahwa sesungguhnya kita telah
jauh berpisah secara realita
Apa Kabar Wahai Hati ?
Apa
kabar wahai hati ?
Apakah siang
masih memberikanmu berbagai coretan kepedihan ?
Mampukah malam menjadi selimut untuk kembali menghangatkanmu?
Mampukah malam menjadi selimut untuk kembali menghangatkanmu?
Telah berapa
kali terik sang surya memanasi guna menjerumuskanmu ?
Bisakah kau manfaatkan rembulan sebagai teman renunganmu?
Bisakah kau manfaatkan rembulan sebagai teman renunganmu?
Apa
kabar wahai hati ?
Ribuan tanya
biarkan tersodor begitu saja
Namun izinkan satu jawaban mewakili semua itu
Bahwa dirimu
mampu mengatasinya dan akan baik-baik saja
Iya memang tak
mudah tapi bukan berarti tak bisa bukan ? :)
Ketika
Kadang akan ada saatnya. . .
Ketika perbuatan
kebajikan kamu seolah tak ternilai
Senyuman kamu tak
terbalas
Ungkapan sapa kamu
seolah tak terdengar
Bahkan kehadiranmu
yang pernah seolah tak pernah ada
Entah apa
sebaiknya dilakukan untuk ke
depannya
Berbalik arah kah untuk bersikap acuh tak acuh
Atau bahkan tetap
dalam situasi demikian
Dengan mencoba
menampakkan diri
Bahwanya
sebenarnya ada
Jangan
Jangan sedih
Karena saya akan
ikut terlarut akan itu
Tanpa
memiliki bahagia untukku berikan padamu
Jangan sepi
Karena saya akan
ikut terbawa arus itu
Tanpa
memiliki sekapsul pun keramaian untukku
bagi padamu
Jangan bimbang
Karena saya akan
lelah menerka-nerka terhadap itu
Tanpa
memiliki jawaban untukku sarankan padamu
Jangan biarkan
jendela dirimu memberi izin
Untuk segala
keterpurukan masuk dan menyelinap
Jangan biarkan
bahagiamu lenyap sia-sia
Untuk segala
ketidakpentingan yang berujung merugi

Komentar
Posting Komentar