Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

#2 Gerak, ia Sela

{Tak Berjudul} Sepertinya ada yang keliru.  Sepertinya memang harus ada yang diubah.  Kesalahannya fatal, walau tetap bisa diperbaiki.  Asal segera Disayangkan sekali.  Merepotkan pikiran ini terlalu dini.  Disaat yang padahal perlu tindakan lebih dulu.  Mulai mulai mulai, gerak itu. Sela menghentikan ketikan Tak Berjudulnya. Apakah  memang rangkaian kata-kata itu telah mewakili luapan perasaannya atau belum, entahlah. Bagi Sela, kalimat atau quotes-qoutes motivasi terkadang ibarat zat psikotropika yang daya kerja mempengaruhinya sementara belaka. Memberikan energi menggebu untuk setelahnya dapat saja lenyap karena berbagai faktor. Tugas terberatnya kembali lagi yakni bagaimana membuat energi itu tetap menetap dan dirasakan sebagai bahan bakar untuk memulai berbagai “gerak” itu. Target, ambisi, motivasi, konsistensi, menjadi bibit-bibit yang sering kali samar dan rabun untuk memberikan arah yang jelas.  Jangan herankan, dalam diamnya Sela kerap k...

#1 Berkisah, ia Sela

Kembali berkisah tentang seorang gadis yang kini telah dewasa. Karena sudah tak tepat bila sebatas disebut “beranjak dewasa” sebab, langkahnya sudah terupaya menanjakkan diri menuju kedewasaan itu sendiri. Namun, apa itu dewasa? Jika ditanya pun jawaban darinya bukan menjadi jawaban dengan ilmu pasti yang disepakati kebenarannya oleh setiap orang. Karena baginya, “mungkin” kini memang ia telah dewasa atau lebih tepatnya didewasakan oleh berbagai keadaan yang diterpa dan dialaminya hingga kemudian kini menjadi jejak-jejak karena telah berhasil dilewatinya. Namanya Sela. Nama yang kembali tersebut sejak beberapa tahun belakangan. Nama yang kembali terketik dengan membawa berbagai cerita baru walau kisah lalu tetap terbayang enggan tuk terlupakan. Seorang gadis biasa dengan jiwa yang perasa dalam diamnya.  Dewi Ayu, Nyai Ontosoroh, Sri Ningsih, Jeng Yah, Atik, menjadi tokoh-tokoh wanita dalam novel yang menjadi favorit barunya. Saat beberapa tahun belakangan cerita teen fiction denga...

4 JAM

Tidak ada yang benar-benar selesai. Memulai sesuatu dengan maksud nantinnya sebenarnya hanya untuk mengakhiri. Mengakhiri yang sebenarnya hanya menutup satu pintu untuk kemudian melanjutkan membuka pintu-pintu lainnya. Mulai lagi, akhiri lagi, dan begitu seterusnya. Merasa “Yes” usai menyelesaikan sesuatu untuk setelahnya menghela napas kembali menyambut kesibukan baru. Entah memang baru atau sebenarnya hanya kelanjutan dari kisah sebelumnya. Sebelumnya, saya pun sibuk dengan pikiran sendiri. Lelah sama rutinitas yang rasanya tiada habisnya. Kesibukkan, tanggungjawab, kewajiban dan lain sebagainya menjadi bagian yang terus melekat disetiap perjalanan. Hingga kemudian saya melihat dan tertarik pada salah satu tweet seseorang dengan akun yang telah terverifikasi. Nago Tejena, namanya. Dari bio twitternya tertulis beliau seorang psikolog klinis, dan sering berkhotbah tentang hidup manusia, katanya haha. Okey Adapun dalam akun twitternya itu ia meng etweet : “ Kamu tidak akan pernah benar...

Unedukasi 2021

  Sering terjadi Terlalu banyak hingga sudah berdesakan berbagai rasa hingga untuk mengungkapkannya pun bingung akan bagaimana menggambarkannya. “ duh bingung mau mulai darimana ,” ungkap orang-orang pada umumnya.  Seperti halnya saat ini. Saya. Sekedar mengetikkan apa yang dirasakan seolah mudah saja. Sebagaimana prinsip awalnya yaitu kalau tidak dapat diucapkan, ya ketikan saja. Mengoceh melalui tulisan. Ya ya ya. Tapi tidak seperti itu juga lah. Tidak ada orang lain yang mendengarkan bukan berarti tidak menimbang apa yang sebaiknya diungkapkan, kan? Begitu pula dengan menulis. Bukan berarti karna tidak ada jaminan orang untuk membacanya sehingga asal saja menata kalimat. Ohh ini bukan maksud semata untuk mementingkan penilaian orang lain ya. Namun, lebih kepada dari apa yang diungkapkan, dalam bentuk tulisan seperti ini setelahnya tetap bisa dinikmati setidaknya untuk diri sendiri. Titik koma dengan respect tetap diposisikan selayak tugasnya, tatanan kalimat dengan penuh p...