Sebagaimana mestinya dipenghujung hari, semesta akan selalu ditutup dengan permisinya sang surya, untuk kemudian kembali ke singgasananya usai menjalankan tugas sebagaimana anugrah yang dimilikinya. Kepergiannya yang kerap diringi panorama jingga nan indah seakan mengisyaratkan harapan akan tetap kembali untuk esok hari. Lantunan azan maghrib selain sebagai pertanda seruan ibadah guna meraih kemenangan tetapi, juga sekaligus sebagai penutup hari dan tak ada kata kembali untuk itu. Pertanyaannya kemudian ialah, telah sejauh mana hari-hari yang telah berlalu diselaraskan dengan pemanfaatan diri yang maksimal? Dan telah berapa kesempatan yang terpampang menawarkan diri untuk diambil tetapi justru teracuhkan dan dibuang sia-sia? Maghrib acap kali menjadi momen dimana lemparan penyesalan dan pertanyaan amat kuat menghujam jiwa. Fikiran seakan menjadi monitor dengan menayangkan kembali perbuatan yang telah dilakukan dalam mengisi hari. Perbuatan sia-sia dan perbuatan dosa terakum...
"Jika ocehanmu terdengar tapi terabaikan, maka mengocehlah melalui tulisan"