Langsung ke konten utama

Ragam Makna di Balik Hujan



Siang hari ini, matahari tak begitu terik. Sebagaimana hari-hari libur,  tak banyak yang mengisi aktivitas produktifku di rumah. Kubaringkan kepala dibantal dengan berbagai isian dalam otak mungilku disertai perasaan yang saya sendiri sulit mendeskripsikannya. Fikiran dan perasaan yang mulai menampakkan hadirnya sejak beberapa hari lalu. 

Berbaring diujung ranjang yang dekat dengan jendela kaca, begitu jelas memperlihatkanku bagian luar rumah dengan jemuran pakaian sebagai ornamennya (?)

Titik-titik air hujan perlahan ikut berpartisipasi dengan saling menjatuhkan diri. Hujan bak alarm peringatan agar manusia menyegerakkan diri mengambil jemuran cucian yang tidak mau sia-sia untuk basah kembali.

Setiap orang memiliki penilaian masing-masing terhadap hujan. Ada yang suka, tak suka, maupun biasa saja. Penilaian ini kadangkala juga dipengaruhi dengan situasi dan kondisi orang-orang bersangkutan, yakni sampai sejauh mana hujan ini berefek pada diri seseorang tersebut. Apakah sebagai penghambat atau bahkan sebagai berkah jika memang seseorang tertentu menempatkan rasa syukur diatas keluh kesahnya.

Begitupun dalam kehidupan antar manusia. Bahwasanya setiap yang hadir dalam kehidupan kita baik itu seseorang maupun sekelompok orang memiliki nilai dan kesannya masing-masing. Tinggal sejauhmana kita dalam menyikapinya. Bila itu meninggalkan nilai dan kesan yang baik, maka ambil teladannya dan bila itu nilai dan kesan yang buruk, maka cukup ambil hikmah dibaliknya.

Kehadiran seseorang dalam hidup kita akan selalu berbarengan dengan potensi kehilangan seseorang itu sendiri. Sebab, segala sesuatu dalam kaitannya akan dunia tiada kekekalan didalamnya. Semua memiliki masanya masing-masing, seperti hujan ^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANDA

Tidak ada alasan, juga bisa jadi alasan. Sampai pagi ini, rasanya masih tidak nyaman. Saat dimalam beberapa hari lalu merasa “memiliki”. Pagi setelahnya seakan memutar balikan skenario yang sebelumnya sudah kuanggap nyata. Memulai lagi, dari nol. Sesuatu yang malamnya kuyakinkan jadi sisa satu-satunya alasan bertahan. Sekilas, paginya hilang berangan. Pertanda. Satu kata yang ikut muncul mencocokologi keadaan. Kata yang entah beberapa kali ditekankan   dari buku The Alchemist by Paulo Coelho. Buku yang sementara ku baca dan masih berada di halaman 91. Menceritakan seorang pengembala domba dalam petualangan mencari harta karunnya. Membaca pertanda Saat petunjuk yang tidak selalu dalam bentuk penjelasan terang-terangan. Melainkan kode atau sebatas pertanda yang memang butuh beberapa kali terurai dan menunjukkan diri dalam berbagai bentuk. Baru kemudian perlahan dimengerti maksud tujuannya. Diceritakan, Si Pengembala masih terlibat dalam uraian pertanda yang jadi bagian dala...

BUKU PINK

  Happy Weekend! Libur sehari yang besoknya berlanjut Minggu rasanya HAPPY! Walau ditunjukan bukan dengan ekspresif sumringah ataupun bukan disambut rencana spesial tertentu. Tapi, hanya dalam to do list sederhana untuk diri sendiri. Saat ini harusnya kulakukan dengan mengejarkan to do list prioritas terakhirku yang malam sebelumnya telah kutulis sebagai bentuk rencana. Dengan niat awal ingin mengerjakan file yang berisi format rencana plan Septemberku, sambil mengambil buku pink lamaku. Berpikir barangkali ada catatan terdahuluku yang terlupa tapi bisa jadi bahan yang relate dengan rencana September 2025 ku. Menyalakan laptop, memasang earphone, dan terdorong sebagai playlist yang pertama mulai menyetel lagu Sal Priadi. “Dengan kekuatan bulan yang paling baik Harapanku besar dunia kembali asik Kelak langit terang aku bisa terbang Juga mesti mendung tetap coba tuk berkunjung Lari kehadapan orang yang ku sayang Tuhan bolehkah ini yang aku perjuangankan...” ” Audio by earp...

Besok Senin!

Minggu malam yang cukup melow. Diantara paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun melow! Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya, tebakku. Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang. Mencuci muka dengan facial wash gantle ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan.. Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen disaat membangun c...