Siang hari ini, matahari tak begitu terik. Sebagaimana hari-hari libur, tak banyak yang mengisi aktivitas produktifku di rumah. Kubaringkan kepala dibantal dengan berbagai isian dalam otak mungilku disertai perasaan yang saya sendiri sulit mendeskripsikannya. Fikiran dan perasaan yang mulai menampakkan hadirnya sejak beberapa hari lalu.
Berbaring
diujung ranjang yang dekat dengan jendela kaca, begitu jelas memperlihatkanku
bagian luar rumah dengan jemuran pakaian sebagai ornamennya (?)
Titik-titik
air hujan perlahan ikut berpartisipasi dengan saling menjatuhkan diri. Hujan
bak alarm peringatan agar manusia menyegerakkan diri mengambil jemuran cucian
yang tidak mau sia-sia untuk basah kembali.
Setiap
orang memiliki penilaian masing-masing terhadap hujan. Ada yang suka, tak suka,
maupun biasa saja. Penilaian ini kadangkala juga dipengaruhi dengan situasi dan
kondisi orang-orang bersangkutan, yakni sampai sejauh mana hujan ini berefek
pada diri seseorang tersebut. Apakah sebagai penghambat atau bahkan sebagai
berkah jika memang seseorang tertentu menempatkan rasa syukur diatas keluh
kesahnya.
Begitupun
dalam kehidupan antar manusia. Bahwasanya setiap yang hadir dalam kehidupan
kita baik itu seseorang maupun sekelompok orang memiliki nilai dan kesannya masing-masing.
Tinggal sejauhmana kita dalam menyikapinya. Bila itu meninggalkan nilai dan
kesan yang baik, maka ambil teladannya dan bila itu nilai dan kesan yang buruk,
maka cukup ambil hikmah dibaliknya.
Kehadiran
seseorang dalam hidup kita akan selalu berbarengan dengan potensi kehilangan
seseorang itu sendiri. Sebab, segala sesuatu dalam kaitannya akan dunia tiada
kekekalan didalamnya. Semua memiliki masanya masing-masing, seperti hujan ^^

Komentar
Posting Komentar