Langsung ke konten utama

Benar


Benar. Kata menyerah itu tak dipungkiri acapkali mampir memperkenal diri. Berbagai opsi memiliki peluang yang sama besarnya. Menyerah terhadap keadaan, menyerah terhadap orang-orang sekitar hingga menyerah kepada diri sendiri.

Benar. Diri ini lemah. Lemah dalam mencoba menguatkan diri sendiri. Lemah dalam meyakinkan hati untuk tak mudah remuk akan berbagai terpaan rasa. Lemah dalam menjernihkan pikiran untuk reda dari bayang berkecamuk. Lemah menyadari bahwa segala sesuatu tiada yang luput dari kehendakNya demi kebaikan hambaNya.

Haha dan benar. Ternyata memang air mata adalah bagian dari makna yang sudah tak mampu diungkapkan oleh kata dan kepada siapa-siapa.

Sungguh benar. Segala hal sepatutnya memang terlebih dahulu harus dimulai dengan niat untukNya demi berkahNya diakhir nanti.

Yahh benar. Segala yang terjadi meskipun buruk akan tetap diselingi kebaikan di dalamnya. Kebaikan dalam suatu hikmah jika diri mengimani lalu kemudian memetiknya. Buah dari hikmah itu ranum. Maka cobalah untuk mencicipinya.

Sekali lagi benar. Akan terdapat pahala disisiNya jika segala kehendakNya kita jalani dengan ikhlas, sabar dan hanya berserah diri serta menjatuhkan harapan kepadaNya.

Benar bukan? Untuk menilainya, maka cobalah menghitung telah berapa kali hatimu dikecewakan oleh manusia. Untuk kemudian menjadi jawaban apakah selama ini dirimu benar-benar berharap kepada Sang Ilahi semata atau justru ke manusia.


Al Haq - Maha Benar
Subhanallah  Walhamdulillah Wa Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar







Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANDA

Tidak ada alasan, juga bisa jadi alasan. Sampai pagi ini, rasanya masih tidak nyaman. Saat dimalam beberapa hari lalu merasa “memiliki”. Pagi setelahnya seakan memutar balikan skenario yang sebelumnya sudah kuanggap nyata. Memulai lagi, dari nol. Sesuatu yang malamnya kuyakinkan jadi sisa satu-satunya alasan bertahan. Sekilas, paginya hilang berangan. Pertanda. Satu kata yang ikut muncul mencocokologi keadaan. Kata yang entah beberapa kali ditekankan   dari buku The Alchemist by Paulo Coelho. Buku yang sementara ku baca dan masih berada di halaman 91. Menceritakan seorang pengembala domba dalam petualangan mencari harta karunnya. Membaca pertanda Saat petunjuk yang tidak selalu dalam bentuk penjelasan terang-terangan. Melainkan kode atau sebatas pertanda yang memang butuh beberapa kali terurai dan menunjukkan diri dalam berbagai bentuk. Baru kemudian perlahan dimengerti maksud tujuannya. Diceritakan, Si Pengembala masih terlibat dalam uraian pertanda yang jadi bagian dala...

BUKU PINK

  Happy Weekend! Libur sehari yang besoknya berlanjut Minggu rasanya HAPPY! Walau ditunjukan bukan dengan ekspresif sumringah ataupun bukan disambut rencana spesial tertentu. Tapi, hanya dalam to do list sederhana untuk diri sendiri. Saat ini harusnya kulakukan dengan mengejarkan to do list prioritas terakhirku yang malam sebelumnya telah kutulis sebagai bentuk rencana. Dengan niat awal ingin mengerjakan file yang berisi format rencana plan Septemberku, sambil mengambil buku pink lamaku. Berpikir barangkali ada catatan terdahuluku yang terlupa tapi bisa jadi bahan yang relate dengan rencana September 2025 ku. Menyalakan laptop, memasang earphone, dan terdorong sebagai playlist yang pertama mulai menyetel lagu Sal Priadi. “Dengan kekuatan bulan yang paling baik Harapanku besar dunia kembali asik Kelak langit terang aku bisa terbang Juga mesti mendung tetap coba tuk berkunjung Lari kehadapan orang yang ku sayang Tuhan bolehkah ini yang aku perjuangankan...” ” Audio by earp...

Besok Senin!

Minggu malam yang cukup melow. Diantara paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun melow! Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya, tebakku. Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang. Mencuci muka dengan facial wash gantle ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan.. Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen disaat membangun c...