Benar. Kata menyerah itu tak dipungkiri acapkali mampir memperkenal diri. Berbagai opsi memiliki peluang yang sama besarnya. Menyerah terhadap keadaan, menyerah terhadap orang-orang sekitar hingga menyerah kepada diri sendiri.
Benar. Diri ini lemah. Lemah dalam mencoba menguatkan diri sendiri. Lemah dalam meyakinkan hati untuk tak mudah remuk akan berbagai terpaan rasa. Lemah dalam menjernihkan pikiran untuk reda dari bayang berkecamuk. Lemah menyadari bahwa segala sesuatu tiada yang luput dari kehendakNya demi kebaikan hambaNya.
Haha dan benar. Ternyata memang air mata adalah bagian dari makna yang sudah tak mampu diungkapkan oleh kata dan kepada siapa-siapa.
Sungguh benar. Segala hal sepatutnya memang terlebih dahulu harus dimulai dengan niat untukNya demi berkahNya diakhir nanti.
Yahh benar. Segala yang terjadi meskipun buruk akan tetap diselingi kebaikan di dalamnya. Kebaikan dalam suatu hikmah jika diri mengimani lalu kemudian memetiknya. Buah dari hikmah itu ranum. Maka cobalah untuk mencicipinya.
Sekali lagi benar. Akan terdapat pahala disisiNya jika segala kehendakNya kita jalani dengan ikhlas, sabar dan hanya berserah diri serta menjatuhkan harapan kepadaNya.
Benar bukan? Untuk menilainya, maka cobalah menghitung telah berapa kali hatimu dikecewakan oleh manusia. Untuk kemudian menjadi jawaban apakah selama ini dirimu benar-benar berharap kepada Sang Ilahi semata atau justru ke manusia.

Komentar
Posting Komentar