Langsung ke konten utama

Mencintai Diri (Sendiri)


Awalnya kupikir bahwa sendiri itu selalu identik dengan sepi. Hanya diri yang perlahan dibaluti sunyi. Tanpa dia. Tanpa mereka. Tanpa siapa-siapa. Ocehan diri tak tahu akan disodorkan kemana dan kepada siapa. Hingga akhirnya terpendam begitu saja dan termakan oleh masa. Namun, nyatanya saya salah. Ternyata ini bukan perkara karna tak memiliki siapa-siapa. Tetapi, masalah diri yang belum  bisa berteman baik dengan kesendirian yang melanda. Sebab, perlahan kupahami bahwa walau sendiri bukan berarti tak bisa berbuat apa-apa.

Belakangan ini harus kuakui pula bahwa prasangka kuat menghantam diri. Sikap diamku diambil alih oleh fikiran dan hati yang berceloteh tak terkontrol. Alhasil, membuahkan praduga yang sebenarnya menyiksa diri sendiri. Rasa khawatir, rasa bersalah hingga buruk sangka menjadi virus amat merugikan. Saat pihak lain malah mengabaikan dan fokus menyibukkan diri, saya malah berperang dengan diri sendiri. Begitu bodohh. 

Yah. Salah. Lagi-lagi rasanya ingin enyahkan diri sendiri. Kesal rasanya. Jawaban yang kini dapat kupastikan bahwa realitanya diri belum sepenuhnya dapat mencintai diri sendiri. Tak ada yang salah dalam mengedepankan kepentingan umum. Namun, bagaimana itu dapat meraih nilai dari segi ketulusan jika kepentingan untuk diri sendiri malah terabaikan. 

Mencintai diri sendiri adalah kalimat luar biasa. "Saya cinta diriku" adalah pernyataan yang cukup menjadi power untuk diri. Tak lain juga merupakan bagian dari mengharagai diri sendiri sekaligus syukur. So, jangan jadikan orang lain yang menjadi tolak ukur untuk mendapatkan rasa cinta. Karna sumber kekuatan dan kebahagian sejatinya bersumber dari dalam diri kita sendiri. ^^



Pict by pexels.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANDA

Tidak ada alasan, juga bisa jadi alasan. Sampai pagi ini, rasanya masih tidak nyaman. Saat dimalam beberapa hari lalu merasa “memiliki”. Pagi setelahnya seakan memutar balikan skenario yang sebelumnya sudah kuanggap nyata. Memulai lagi, dari nol. Sesuatu yang malamnya kuyakinkan jadi sisa satu-satunya alasan bertahan. Sekilas, paginya hilang berangan. Pertanda. Satu kata yang ikut muncul mencocokologi keadaan. Kata yang entah beberapa kali ditekankan   dari buku The Alchemist by Paulo Coelho. Buku yang sementara ku baca dan masih berada di halaman 91. Menceritakan seorang pengembala domba dalam petualangan mencari harta karunnya. Membaca pertanda Saat petunjuk yang tidak selalu dalam bentuk penjelasan terang-terangan. Melainkan kode atau sebatas pertanda yang memang butuh beberapa kali terurai dan menunjukkan diri dalam berbagai bentuk. Baru kemudian perlahan dimengerti maksud tujuannya. Diceritakan, Si Pengembala masih terlibat dalam uraian pertanda yang jadi bagian dala...

BUKU PINK

  Happy Weekend! Libur sehari yang besoknya berlanjut Minggu rasanya HAPPY! Walau ditunjukan bukan dengan ekspresif sumringah ataupun bukan disambut rencana spesial tertentu. Tapi, hanya dalam to do list sederhana untuk diri sendiri. Saat ini harusnya kulakukan dengan mengejarkan to do list prioritas terakhirku yang malam sebelumnya telah kutulis sebagai bentuk rencana. Dengan niat awal ingin mengerjakan file yang berisi format rencana plan Septemberku, sambil mengambil buku pink lamaku. Berpikir barangkali ada catatan terdahuluku yang terlupa tapi bisa jadi bahan yang relate dengan rencana September 2025 ku. Menyalakan laptop, memasang earphone, dan terdorong sebagai playlist yang pertama mulai menyetel lagu Sal Priadi. “Dengan kekuatan bulan yang paling baik Harapanku besar dunia kembali asik Kelak langit terang aku bisa terbang Juga mesti mendung tetap coba tuk berkunjung Lari kehadapan orang yang ku sayang Tuhan bolehkah ini yang aku perjuangankan...” ” Audio by earp...

Besok Senin!

Minggu malam yang cukup melow. Diantara paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun melow! Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya, tebakku. Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang. Mencuci muka dengan facial wash gantle ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan.. Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen disaat membangun c...