Awalnya kupikir bahwa sendiri itu selalu identik dengan sepi. Hanya diri yang perlahan dibaluti sunyi. Tanpa dia. Tanpa mereka. Tanpa siapa-siapa. Ocehan diri tak tahu akan disodorkan kemana dan kepada siapa. Hingga akhirnya terpendam begitu saja dan termakan oleh masa. Namun, nyatanya saya salah. Ternyata ini bukan perkara karna tak memiliki siapa-siapa. Tetapi, masalah diri yang belum bisa berteman baik dengan kesendirian yang melanda. Sebab, perlahan kupahami bahwa walau sendiri bukan berarti tak bisa berbuat apa-apa.
Belakangan ini harus kuakui pula bahwa prasangka kuat menghantam diri. Sikap diamku diambil alih oleh fikiran dan hati yang berceloteh tak terkontrol. Alhasil, membuahkan praduga yang sebenarnya menyiksa diri sendiri. Rasa khawatir, rasa bersalah hingga buruk sangka menjadi virus amat merugikan. Saat pihak lain malah mengabaikan dan fokus menyibukkan diri, saya malah berperang dengan diri sendiri. Begitu bodohh.
Yah. Salah. Lagi-lagi rasanya ingin enyahkan diri sendiri. Kesal rasanya. Jawaban yang kini dapat kupastikan bahwa realitanya diri belum sepenuhnya dapat mencintai diri sendiri. Tak ada yang salah dalam mengedepankan kepentingan umum. Namun, bagaimana itu dapat meraih nilai dari segi ketulusan jika kepentingan untuk diri sendiri malah terabaikan.
Mencintai diri sendiri adalah kalimat luar biasa. "Saya cinta diriku" adalah pernyataan yang cukup menjadi power untuk diri. Tak lain juga merupakan bagian dari mengharagai diri sendiri sekaligus syukur. So, jangan jadikan orang lain yang menjadi tolak ukur untuk mendapatkan rasa cinta. Karna sumber kekuatan dan kebahagian sejatinya bersumber dari dalam diri kita sendiri. ^^
Pict by pexels.com
Komentar
Posting Komentar