“Semoga kita bisa menjadi penggemar berat diri kita sendiri” Beralas sticky notes kuning, kutipan itu tepat tertera didepanku yang duduk didepannya sedang ‘dia’ yang tertempel pasrah ditembok pink kamarku. Diantaranya, tempelan stikinotes lain ikut terpampang berisi tulisan tangan yang kutulis saat sedang berada dipuncak semangat suatu malam. Seakan mencoba membackup motivasi dan energi diri dengan tulisan yang kupampang disekitar meja belajarku kalau-kalau sedang merasa tidak baik-baik saja. Dan harap, barangkali dengan membacanya dimalam lain, dapat menarikku ke dalam semangat sebagaimana saat ku mulai tulis dan menatanya dengan hati-hati. “ Jadi, malam ini bagaimana memangnya ?” Ucapku, dari pertanyaan isi kepalaku sendiri. Dan tak ada jawaban lanjutannya.. “Semoga kita bisa menjadi penggemar berat diri kita sendiri”. Kutipan ini kembali berulang. Penggemar? Diri? Diri kita sendiri? Berbeda saat malam kumulai menempelkannya ditembok, malam ini rasanya harus menjadi pembelajar dan pe...
"Jika ocehanmu terdengar tapi terabaikan, maka mengocehlah melalui tulisan"