Langsung ke konten utama

Daun & Perahu Kertas


Saat hujan ternampak deras, daun itu semakin teralir kencang pada sungai kehidupan. Sebaliknya, saat musim dianggap bersahabat. Dayungannya tenang. Terombang ambing ibarat sekedar menikmati waktu luang. Perjalanannya jauh. Keras lembut, cepat lamban, menjadi selimut hari-harinya.

Hanya sayangnya, daun itu tak dapat mendefinisikan dirinya, "Apa sebenarnya peranannya?" Tanya nya pada diri sendiri. 

Saat sedang fase menguatkan diri, salah satu sudut pandang dapat saja berdefinisi perihal: Semangat juang. Yakni terkait selembar daun yang berteman dengan berbagai rupa kikisan hidup. Terkikis melemah dari air, terkikis melalui goresan bebatuan yang terlewat. Hingga terkikis tak terdeteksi dari ranting yang dapat saja ditemui dalam masa alirannya. Sebuah kikisan yang tak bisa ditolak untuk sebuah usaha perjalanan. 

Ya. Sebuah sudut pandang yang menggambarkan luka. Namun, sekaligus sebagai bukti juang. Melemahkan namun menguatkan secara bersamaan. 

Belum berakhir. 

Sudut pandang lain berlanjut menjadi poin kedua. Yakni sebuah sudut pandang: Ketidakpercayaan diri. Tentang selembar daun tak berdaya. Kuasa atas dirinya sendiri seakan sebatas poin pasrah dan apa adanya. Tak spesial. Sekedar telentang lemah menompangkan diri pada aliran sungai tanpa suara. Kalau bersuara pun, sia-sia. Karna siapa yang akan mendengarkan dari sesuatu yang dianggap tak memberi kontribusi, pikirnya. 

Sebab, perasaan berharga akan terbaca dari bagaimana merasa dapat memberikan sesuatu. Dan bukan hanya merasa ditopang sendirian. 

Aliran kali ini sedang begitu deras. Daun itu mulai merasakan hantaman kuat. Haruskah ia berpikir ini sebagai tahap peningkatan level atau sebenarnya dampak dari ketidakberdayaannya. 

"Apa sebenarnya perannya"? Pertanyaan itu muncul kembali. 

Ada saat Ia (daun) berbalik mengingat. Menjalani fase bertumbuh yang walau dengan kerelaan gugur dari pohon tempat pucuknya dimekarkan. Melepaskan naungan meski kerindangan rumah pohonnya begitu didambakan. Terhempas untuk jatuh dan tertiup angin. Dimana salah satunya dapat saja terdampar pada sungai dan alirannya. Seperti saat ini. 

Saat baginya proses itu sebagai terpaaan ujian dan fase tak terhindarkan. Harapnya untuk saat ini, walau tak lama:  Keinginan besar untuk sebuah perahu kertas datang menghampirinya. Dengan pesan singkat hasil dari sebuah kepekaan rasa. Entah melalui tangan siapa diarahkan dan kemudian ikut mengalir mendatanginya perlahan. Perahu yang menopang tanpa perlu dinaikinya. Namun, melalui kekuatan pesan pada kertas penyangganya. Pesan yang berisikan bahwa:


"Apapun perasaanmu saat ini, valid adanya. Hargai tiap rasanya. Senang, sedih, kecewa, merasa tak dianggap, dan sendirian. Dan itu tak mengapa. Perbaiki saat ada celah yang didapati dan resapi sampai kembali berbuah belas kasih. Apapun rasamu, melalui perahu ini, Saya akan selalu menemanimu"

- Untuk Daun melalui Perahu Kertas


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANDA

Tidak ada alasan, juga bisa jadi alasan. Sampai pagi ini, rasanya masih tidak nyaman. Saat dimalam beberapa hari lalu merasa “memiliki”. Pagi setelahnya seakan memutar balikan skenario yang sebelumnya sudah kuanggap nyata. Memulai lagi, dari nol. Sesuatu yang malamnya kuyakinkan jadi sisa satu-satunya alasan bertahan. Sekilas, paginya hilang berangan. Pertanda. Satu kata yang ikut muncul mencocokologi keadaan. Kata yang entah beberapa kali ditekankan   dari buku The Alchemist by Paulo Coelho. Buku yang sementara ku baca dan masih berada di halaman 91. Menceritakan seorang pengembala domba dalam petualangan mencari harta karunnya. Membaca pertanda Saat petunjuk yang tidak selalu dalam bentuk penjelasan terang-terangan. Melainkan kode atau sebatas pertanda yang memang butuh beberapa kali terurai dan menunjukkan diri dalam berbagai bentuk. Baru kemudian perlahan dimengerti maksud tujuannya. Diceritakan, Si Pengembala masih terlibat dalam uraian pertanda yang jadi bagian dala...

BUKU PINK

  Happy Weekend! Libur sehari yang besoknya berlanjut Minggu rasanya HAPPY! Walau ditunjukan bukan dengan ekspresif sumringah ataupun bukan disambut rencana spesial tertentu. Tapi, hanya dalam to do list sederhana untuk diri sendiri. Saat ini harusnya kulakukan dengan mengejarkan to do list prioritas terakhirku yang malam sebelumnya telah kutulis sebagai bentuk rencana. Dengan niat awal ingin mengerjakan file yang berisi format rencana plan Septemberku, sambil mengambil buku pink lamaku. Berpikir barangkali ada catatan terdahuluku yang terlupa tapi bisa jadi bahan yang relate dengan rencana September 2025 ku. Menyalakan laptop, memasang earphone, dan terdorong sebagai playlist yang pertama mulai menyetel lagu Sal Priadi. “Dengan kekuatan bulan yang paling baik Harapanku besar dunia kembali asik Kelak langit terang aku bisa terbang Juga mesti mendung tetap coba tuk berkunjung Lari kehadapan orang yang ku sayang Tuhan bolehkah ini yang aku perjuangankan...” ” Audio by earp...

Besok Senin!

Minggu malam yang cukup melow. Diantara paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun melow! Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya, tebakku. Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang. Mencuci muka dengan facial wash gantle ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan.. Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen disaat membangun c...