Langsung ke konten utama

BUKU PINK

 

Happy Weekend!

Libur sehari yang besoknya berlanjut Minggu rasanya HAPPY! Walau ditunjukan bukan dengan ekspresif sumringah ataupun bukan disambut rencana spesial tertentu. Tapi, hanya dalam to do list sederhana untuk diri sendiri.
Saat ini harusnya kulakukan dengan mengejarkan to do list prioritas terakhirku yang malam sebelumnya telah kutulis sebagai bentuk rencana. Dengan niat awal ingin mengerjakan file yang berisi format rencana plan Septemberku, sambil mengambil buku pink lamaku. Berpikir barangkali ada catatan terdahuluku yang terlupa tapi bisa jadi bahan yang relate dengan rencana September 2025 ku.

Menyalakan laptop, memasang earphone, dan terdorong sebagai playlist yang pertama mulai menyetel lagu Sal Priadi.

“Dengan kekuatan bulan yang paling baik
Harapanku besar dunia kembali asik
Kelak langit terang aku bisa terbang

Juga mesti mendung tetap coba tuk berkunjung

Lari kehadapan orang yang ku sayang

Tuhan bolehkah ini yang aku perjuangankan...”

Audio by earphone sambil memperdengarkan suara khas Sal Priadi, untuk momen saat ini, rasanya i loved it!

Lanjut.
Buku pink itu yang bahkan kulupa kapan terakhir membuka dan bersentuhan kembali. Berada dijejeran belakang dari buku lain, kerap samar untuk kuperhatikan disetiap hariku. Dilembar pertamanya tentu saja  berisi tulisanku sendiri. Cukup menampilkan catatan panjang karna kebetulan berisi poin-poin buku yang sebelumnya pernah kubaca dan kutulis kembali karna merasa menarik. Membacanya sekilas, dan salah satunya mendapatkan kutipan:

“Saat kepercayaan diri kita rendah, cobalah berbuat baik”

Diantara lainnya juga ada tulisan:

“Biarkan diri kita menikmati sedikit kemewahan, karna kemewahan kecil bisa mencerahkan hidup kita”

Dan:
“Paprika mengandung 3 kali lebih banyak Vit. C dibanding jeruk”. Emm yang ini.. sorry out of context [emot punten]

Dan entah apakah ini disebut distraksi karna melakukan hal lain dari rencana berbeda yang sebelumnya ingin kulakukan. Atau sebenarnya tidak mengapa? Karna momen langka seperti ini memang bisa datang kapan saja. Misal dengan menulis seperti saat ini.

Lama berpikir untuk berlanjut mengetik pada paragraf ini, iyaa yang ini. Karna rasanya hari ini seperti ada yang berbeda. Dan hipotesis pertama mulai kujadikan amplop jawaban. Yaitu: soal waktu untuk diri sendiri. Libur by calender yang ditetapkan hari ini dan yang disambut Minggu esok harinya. Rasanya seperti ruang yang luas untuk beberapa hari belakangan karna merasa bergelut sama banyak hal. Hal yang sebenarnya sulit juga dideskripkan bila diminta untuk dijabarkan dalam poin-poin. Alhasil, mulai merasa semuanya harus kembali “ditata” sehingga berharap punya waktu untuk alasan itu.

Dimalam sebelumnya, merapikan kamar jadi pembuka untuk “menata”. Barang yang kemana-mana, diposisi yang bukan tempatnya, berserakan dan memberi rasa tak leluasa. Pelan mulai kukembalikan pada tempatnya masing-masing. Plus, dalam prosesnya menemukan barang yang bahkan sebelumnya tidak kusadari bahwa itu hilang, xixi.

Setelah merasa semua lebih lapang dan sebagaimana tiap item sudah pada posisinya. Berlanjut mulai mencatat untuk rencana yang kulakukan esok harinya, tepatnya untuk dihari ini. Dan seperti sekarang, dari rencana yang kulakukan sejak semalam. Sehingga bersisa hanya 1 to do list prioritas yang perlu diselesaikan. Justru ada perasaan yang sulit untuk kudefinisikan.

Pertanyaan yang dengan mengetik ini pun, masih sambil kucari jawabannya.

Teng! 1 jawaban muncul. Apakah ini soal mencari dan menemukan diri sendiri kembali? Ya, disela-sela 2 waktu libur yang berdekatan. Hari ini merasa lebih dekat dengan diri sendiri karna dari target, proses, dan tujuan semua berada dalam kontrolku. Tak apa, walau diperantarai melalui to do list rumahan sederhana. Meski soal menemukan dan pelan-pelan  merasa dekat diri sendiri rasanya masih dibawah 50%. Masih ada minggu besok untuk pelan-pelan lanjut “menata” dan menambah nilai persentase itu.

Saking masih merasa berserakan, rasanya cukup sulit untuk mencari apa yang sebenarnya hilang. Walau jawabannya: cobalah “ditata”. Tapi, rasanya yang justru ingin diketahui ialah apa pemicu berserakan itu. Bukan soal kamar, tapi soal diri sendiri.

Waktu yang saat ini rasanya sangat cepat kah? Dimomen banyak yang juga yang rasanya harus diselesaikan dan dikejar. Atau... bukan soal waktu. Tapi soal diri sendiri yang keliru membuang energi untuk hal yang bukan pada waktunya. Ahhh, kayanya itu jawabannya.

Momen membereskan kamar sebelumnya, ternyata bisa jadi perumpaan kalau segala sesuatu tidak akan terasa sesak dan rumit untuk dibangun dan ditemukan kalau sejak awal kita menempatkan pada posisi semestinya. Kebiasan, perhatian, fokus, disiplin, nyatanya jadi bahan bakar yang memang rawan meredup tapi tetapi harus dibawa untuk terus dijaga bara apinya.

Dan ya, belakangan harus diakui dari hal-hal yang menyita fokus untuk diselesaikan. Karna keterbatasan diri, juga ada hal-hal lain yang jadi berkurang nilai prioritasnya sehingga penataannya teracuh dan setelah dilihat semuanya sudah terlanjur jauh dari posisinya, berserakan.

Kalau pada kamar, ibarat bedak tabur sudah lama terjatuh dan bertinggal pada sudut ruangan dan tertutup dinding meja. Kalau soal diri, perihal peran yang tidak maksimal diberikan bagi mereka yang berhak untuk mendapatkannya. Untuk keluarga, teman, kerabat, bahkan peran untuk kepentingan diri sendiri.


“Pada akhirnya yang kita punya seharusnya jadi yang penting buat kita, waktu kita terbatas” -Raditya Dika
Tercatat pada halaman pertama lembar ketiga buku pink.


*Semoga kita menemukan buku pink dengan versi masing-masing, untuk membantu mengingatkan kembali melalui catatan terdahulu. Atas apa yang pernah kita inginkan dan sukai, untuk menemukan jawaban saat sedang bingung harus ke arah mana <3




Pict by. pexels.com





Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANDA

Tidak ada alasan, juga bisa jadi alasan. Sampai pagi ini, rasanya masih tidak nyaman. Saat dimalam beberapa hari lalu merasa “memiliki”. Pagi setelahnya seakan memutar balikan skenario yang sebelumnya sudah kuanggap nyata. Memulai lagi, dari nol. Sesuatu yang malamnya kuyakinkan jadi sisa satu-satunya alasan bertahan. Sekilas, paginya hilang berangan. Pertanda. Satu kata yang ikut muncul mencocokologi keadaan. Kata yang entah beberapa kali ditekankan   dari buku The Alchemist by Paulo Coelho. Buku yang sementara ku baca dan masih berada di halaman 91. Menceritakan seorang pengembala domba dalam petualangan mencari harta karunnya. Membaca pertanda Saat petunjuk yang tidak selalu dalam bentuk penjelasan terang-terangan. Melainkan kode atau sebatas pertanda yang memang butuh beberapa kali terurai dan menunjukkan diri dalam berbagai bentuk. Baru kemudian perlahan dimengerti maksud tujuannya. Diceritakan, Si Pengembala masih terlibat dalam uraian pertanda yang jadi bagian dala...

Besok Senin!

Minggu malam yang cukup melow. Diantara paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun melow! Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya, tebakku. Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang. Mencuci muka dengan facial wash gantle ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan.. Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen disaat membangun c...