00:15
Sebelumnya, sambil melihat kursor berkedip sesuai tempo dan sambil menunggu ketikkan apa yang sekiranya akan terhasil. Baru kemudian bola mata mengarah ke ujung kiri atas layar handphone dan terpikir, kalimat pembuka simpelnya mari mulai dulu dengan itu. Pukul 00:15.
Sudah lama
Terlampau jauh dari titik coretan terakhir hingga baru sekarang mulai membuat buih dan tenggelam dalam tulisan lagi. Setelah sebelumnya tenggelam dalam isi kepala sendiri.
Ingin bercerita
Ingin mengungkap dalam tulisan walau nantinya bisa saja akan teraneh, dengan berpikir "Ohh ternyata hasil berpikirku seperti ini"? Sambil membaca ulang tulisan yang justru tersusun dari jemari mungilku sendiri.
Apa ini tandanya, sebenarnya memang kita sendiri pun bisa terkikis perlahan untuk mengingat hal tentang diri sendiri. Tentang perasaan sendiri, apalagi yang telah lalu.
Atau bisa jadi ternyata diwaktu berbeda, dapat membawa perbedaan pula dalam membentuk cara kita mengemas dan menampilkan rasa.
Dan untuk momen ini, mari mengekalkan perasaan saat ini, diwaktu saat ini, melalui tulisan yang tak mempunyai aturan resmi.
Sampai diparagraf ini, update waktu terkini mulai berjalan menunjukkan 00:42.
Apa kabar?
Dan seketika, pikiran mengambang pada kejadian yang belum beberapa lama berlangsung...
Sekedar mengambil pandangan, kini sudah mulai lebih dulu diawali mendengarkan perintah otak. Berbeda dari sebelumnya. Berbeda dari berbagai kejadian yang sudah terjadi. Karna mau beranikan diri menoleh dan memperhatikan untuk sesuatu yang sebaiknya tidak perlu terlihat.
Bahkan, saat ekor mata ditawari penglihatan itu, sugesti saat ini sudah lebih peka untuk memberikan peringatkan. Jangan! Alihkan pandangan itu.
Itulah sekarang baru terpikir dan merasa mulai kurang menyukai teknologi bernama CCTV. Diluar dari kegunaannya sebagai fungsi keamanan. Karna ternyata bukan kah ia juga menjadi pelaku dalam memancing dan memperlihatkan hal yang 'mungkin' tak seharusnya sampai dilihat? Dan tak perlu diketahui. Bila tanpa peringatan urgensitas mari memilih situasi untuk tak perlu mengetahui terhadap banyak hal, tekadku. Justru, saat se sosok itu yang tertera dalam frame layar teknologi itu.
Seperti hari itu.
Untuk menghindari praduga dan berhenti berada dalam lingkar denial. Indera pemegang tahta visual ini mulai mengerti dan bekerja patuh. Tanpa mencoba memandang bahkan mencuri lirik pun tak dilakukannya. Ia mengerti. Karna dengan kemampuan tangkapan pandang yang diberkahiNya, akan ada titik lain yang perlu bekerja. Alhasil, dapat timbulnya buah pikiran dengan pemaknaan yang akan berwujud rupa, tak terpasti. Dan pada akhirnya praduga itu akan menepikian dirinya kembali. Itu yang dihindari.
Dan seperti saat itu
Merangkul diri dengan usaha mengontrol dan membatasi kerja salah satu indera. Untungnya bumi masih berputar~ (bernadya), eh sorry salah.
Untungnya, usaha menahan pandang itu terasa tak membutuhkan tenaga ekstra. Sebab sebelumnya, telah lebih dulu bergelut dengan energi yang begitu terkuras. Energi dalam menduga, ber-angan, hingga kemudian tergeletak begitu saja. Entah berserah atau menyerah. Yang jelas, saat itu kesedihan ikut serta.
Berlanjut saat ini
Kelapangan telah menjadi hadiah. Ya Lapang. Dan semoga luasnya dapat menjadi ruang yang cukup untuk tahap melepaskan. Seperti membebaskan burung dengan memberi jangkauan tak terbatas. Tanpa harap untuk kembali. Hanya harap belas kasih.
Jadi bagaimana, apa kabar?

Komentar
Posting Komentar