Minggu malam yang cukup melow. Diantara
paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut
menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun
melow!
Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll
drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang
kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya,
tebakku.
Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam
itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar
kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang.
Mencuci muka dengan facial wash gantle
ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi
pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil
apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan..
Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya
ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen
disaat membangun cerita dikepala sendiri bahkan meski sedang membilas wajah yang
berbusa. Dan tiba-tiba dalam alurnya, rekaman memory soal obrolan podcast yang
ku dengar sore tadi ikut jadi bagian tervisualisasi
dalam skenario. Merasa menarik, ku ambil handphone dan mulai menulisakannya.
Walau dengan prolog yang sampai sepanjang ini untuk pembuka.
Dipodcast itu, menghadirkan narasumber seorang
dosen yang bahasa mudahnya ialah sebagai ahli di bidang ilmu otak dan perilaku.
Ia berkata di salah satu rentetan durasinya bahwa "Salah satu skill
komunikasi yang underated adalah: MENDENGARKAN"
“My god. Wow”. Responku saat mendengarnya saat itu.
Berbeda dengan malam ini. Dalam alur fake scenarios
itu, ntah datang dari mana. Dalam ceritanya ada peran diriku yang merespon atas
hal yang sebenarnya baru saat itu juga ku pahami.
Bukan lagi sebatas "My god. Wow"
Tapi, “iya yaa”. Saat sebelumnya
pemahamanku sebatas sebagai orang yang seperti nya akan menjawab misal diberi pertanyaan.
“Apa itu skill komunikasi?”
“Skill komunikasi adalah proses membangun
komunikasi efektif dengan tujuan pesan/informasi yang utarakan bisa sampai dan pahami kepada mereka yang ditargetkan.”
Atau bisa juga, dalam bayangkanku akan ku jawab:
“Komunikasi efektif adalah bagaimana
menyampaikan pesan/informasi dengan bahasa sederhana ataupun kompleks dengan
menyesuaikan dengan siapa yang ada dihadapan kita.” Blabla..
Tapi, baru setelahnya. Mendalami dan men-highlight
terkait kemampuan "Mendengarkan"
Sekali lagi, “iya iyaa.”. Dalam isi
kepalaku saat sambil bercermin itu, refleks langsung ku segerakan untuk memilih
menuliskan akan hasil temuanku yang cukup excited walau sebatas untuk diri
sendiri.
Mulai memahami, iya mendengarkan. Karna,
komunikasi ternyata bukan sosok yang awal. Tapi, ialah bentuk dari kita
memberikan gambaran terhadap dari apa yang kita dengar. Mendengar melalui semua
panca indra. Bukan sebatas telinga. Mendengar dari apa yang kita lihat, lalui,
rasakan untuk kemudian menjadi database yang akan dicerna dan salurkan kembali.
Salah satunya melalui komunikasi.
Se sederahana, analogi menjadi seseorang yang dibutuhkan saat orang terdekat kamu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Dimana, perlu lebih dulu dari kita memberi ruang bagi mereka untuk berkisah, membiarkan teralirnya cerita mereka, curhatan mereka. Baru kemudian memberikan respon dari sudut pandang atas hasil kalkulasi terhadap apa yang sudah dibagikan sebelumnya.
Bahkan, baru sebatas menjadi seorang pendengar
yang sungguh-sungguh pun. Tanpa respon, saran, kritik atau masukan yang kita
tawarkan. Seseorang diantara kita setidaknya sudah cukup merasa "tidak
sendiri". Ibarat ikut menemani sang sahabat dalam perjalanan membuang
kresek berisi hal yang sudah tidak diinginkan atas hati dan pikiran mereka. Dan
kembali lagi, ini soal kemampuan mendengarkan. Tanpa kata. Tapi, sangat cukup
dirasakan kebermanfaatkan hadirannya.
Dan tidak sebatas itu. Tidak harus
menghadirkan dua peran manusia untuk menjadikannya sebagai gambaran sebuah
contoh.
Saat Kamu juga sedang berada di fase 'melow mu.
Momen disaat timbulnya prasangka dan penilaian yang kita bangun dan sayangnya juga
tidak ramah untuk diri sendiri. Merasa sedih, bersalah, lelah, bingung, dll. Bahkan
disaat merasa tidak hanya dalam kondisi tidak nyaman dengan orang lain. Namun,
juga dengan diri sendiri.
Situasi tidak memahami diri dan arah sendiri. Merasa
jauh dengan diri sendiri. Dan saat itu, tak mengapa mengambil jeda walau harus
dengan posisi sandaran tipis dan jari menscroll reels (like me). Lalu kemudian tenanglah,
setelahnya justru saat itulah bangun komunikasi dengan diri kembali. Bagaimana
caranya? Yaitu mencoba cerna dan memahami dengan lebih dulu mendengarkan diri. Biarkan
semua saraf indra dan memory terputar. Cukup dengarkanlah. Terima. Tanpa paksaan
harus segera menemukan arah, setidaknya ketenangan sudah lebih dulu didapatkan.
Tanpa harus tergesa memberi penjelasan atau
pengertian terhadap sesuatu akan keadaan tertentu. Kadang kita perlu lebih dulu
bekerja sama dengan diri sendiri. Mengetahui keinginan, kebutuhan, dan memasok segala
hal yang ternilai dapat memberi poin berharga sebagai pegangan untuk diri
sendiri. Perlahan kita pun terbentuk dari apa yang kita usahakan dan serapi
pada jiwa dan tubuh kita.
Untuk setelahnya, baru kemudian mengkomunikasikan dalam kondisi diri yang telah utuh.
Sebab, apa yang kita utarkan ialah salah satu
saluran untuk menggambarkan siapa diri kita sebenarnya. Karna diri kita terbentuk
dari apa yang kita lalui dan serap, salah satunya dengan cara Mendengarkan.
Bye. Besok Senin!
Link Podcast nyaw”: https://www.youtube.com/watch?v=g2ZjZAVUHB4
pict by. pexels.com

Komentar
Posting Komentar