Langsung ke konten utama

#1 Berkisah, ia Sela




Kembali berkisah tentang seorang gadis yang kini telah dewasa. Karena sudah tak tepat bila sebatas disebut “beranjak dewasa” sebab, langkahnya sudah terupaya menanjakkan diri menuju kedewasaan itu sendiri. Namun, apa itu dewasa? Jika ditanya pun jawaban darinya bukan menjadi jawaban dengan ilmu pasti yang disepakati kebenarannya oleh setiap orang. Karena baginya, “mungkin” kini memang ia telah dewasa atau lebih tepatnya didewasakan oleh berbagai keadaan yang diterpa dan dialaminya hingga kemudian kini menjadi jejak-jejak karena telah berhasil dilewatinya.

Namanya Sela. Nama yang kembali tersebut sejak beberapa tahun belakangan. Nama yang kembali terketik dengan membawa berbagai cerita baru walau kisah lalu tetap terbayang enggan tuk terlupakan. Seorang gadis biasa dengan jiwa yang perasa dalam diamnya. 

Dewi Ayu, Nyai Ontosoroh, Sri Ningsih, Jeng Yah, Atik, menjadi tokoh-tokoh wanita dalam novel yang menjadi favorit barunya. Saat beberapa tahun belakangan cerita teen fiction dengan penggambaran keuwuan muda mudi SMA sebagai minatnya, kini rasa itu sedikit berubah. “Melihat kisah relationship anak SMA mengapa begitu menggelikankan", pikirnya. Poinnya, hal yang dapat Sela ambil ialah suatu yang namanya selera pun dapat berubah. Selera dalam suatu karya misalnya, sebab tidak ada karya yang buruk atau salah. Tapi, semua berangkat dari bagaimana setiap orang dapat atau tidaknya untuk menikmatinya. Semua karya selain sebagai wujud menunjukkan eksistensi diri bagi pembuat/penciptanya sekaligus juga sebagai konsumsi bagi mereka yang minat karena menyukainya. 

Itulah, sekilas perubahan yang sedikit terkisahkan mengenai gadis itu. Menceritakan seorang Sela menjadi kisah yang rasanya  butuh berseason secara waktu. Perjalanannya cukup panjang walau bukan berarti selalu berisi hal menarik ber plot twist. Ia Sela, seorang yang perkataannya panjang lebar saat menjadi pendengar dan merespon curhatan kisah rekannya. Namun, ucapannya kaku dan mati kata saat mencoba berutara terkait kisahnya.

Seperti malam ini, seusai menampung cerita temannya dan berceloteh membagi berbagai saran, kini ia bersandar santai menatap layar laptop melihat ketikannya sendiri. Ketikan yang berisi dirinya bercerita, kepada diri sendiri pula. Belakangan, Sela sadari bahwa sebenarnya berbagai saran yang ia celotehkan kepada teman-temannya, ialah saran yang sebenarnya ia tujukan pula kepada dirinya sendiri. Saran yang diharapkan ia dapat dengarkan pula dari orang lain. Namun, ia menyadari, bagaimana bisa dapat memperolehnya, saat ia sendiri tak cukup pandai dalam mengisahkan dirinya.

Bersambung . . .


Pict by pexels.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANDA

Tidak ada alasan, juga bisa jadi alasan. Sampai pagi ini, rasanya masih tidak nyaman. Saat dimalam beberapa hari lalu merasa “memiliki”. Pagi setelahnya seakan memutar balikan skenario yang sebelumnya sudah kuanggap nyata. Memulai lagi, dari nol. Sesuatu yang malamnya kuyakinkan jadi sisa satu-satunya alasan bertahan. Sekilas, paginya hilang berangan. Pertanda. Satu kata yang ikut muncul mencocokologi keadaan. Kata yang entah beberapa kali ditekankan   dari buku The Alchemist by Paulo Coelho. Buku yang sementara ku baca dan masih berada di halaman 91. Menceritakan seorang pengembala domba dalam petualangan mencari harta karunnya. Membaca pertanda Saat petunjuk yang tidak selalu dalam bentuk penjelasan terang-terangan. Melainkan kode atau sebatas pertanda yang memang butuh beberapa kali terurai dan menunjukkan diri dalam berbagai bentuk. Baru kemudian perlahan dimengerti maksud tujuannya. Diceritakan, Si Pengembala masih terlibat dalam uraian pertanda yang jadi bagian dala...

BUKU PINK

  Happy Weekend! Libur sehari yang besoknya berlanjut Minggu rasanya HAPPY! Walau ditunjukan bukan dengan ekspresif sumringah ataupun bukan disambut rencana spesial tertentu. Tapi, hanya dalam to do list sederhana untuk diri sendiri. Saat ini harusnya kulakukan dengan mengejarkan to do list prioritas terakhirku yang malam sebelumnya telah kutulis sebagai bentuk rencana. Dengan niat awal ingin mengerjakan file yang berisi format rencana plan Septemberku, sambil mengambil buku pink lamaku. Berpikir barangkali ada catatan terdahuluku yang terlupa tapi bisa jadi bahan yang relate dengan rencana September 2025 ku. Menyalakan laptop, memasang earphone, dan terdorong sebagai playlist yang pertama mulai menyetel lagu Sal Priadi. “Dengan kekuatan bulan yang paling baik Harapanku besar dunia kembali asik Kelak langit terang aku bisa terbang Juga mesti mendung tetap coba tuk berkunjung Lari kehadapan orang yang ku sayang Tuhan bolehkah ini yang aku perjuangankan...” ” Audio by earp...

Besok Senin!

Minggu malam yang cukup melow. Diantara paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun melow! Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya, tebakku. Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang. Mencuci muka dengan facial wash gantle ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan.. Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen disaat membangun c...