{Tak Berjudul}
Sepertinya ada yang keliru. Sepertinya memang harus ada yang diubah. Kesalahannya fatal, walau tetap bisa diperbaiki. Asal segera
Disayangkan sekali. Merepotkan pikiran ini terlalu dini. Disaat yang padahal perlu tindakan lebih dulu. Mulai mulai mulai, gerak itu.
Sela menghentikan ketikan Tak Berjudulnya. Apakah memang rangkaian kata-kata itu telah mewakili luapan perasaannya atau belum, entahlah. Bagi Sela, kalimat atau quotes-qoutes motivasi terkadang ibarat zat psikotropika yang daya kerja mempengaruhinya sementara belaka. Memberikan energi menggebu untuk setelahnya dapat saja lenyap karena berbagai faktor. Tugas terberatnya kembali lagi yakni bagaimana membuat energi itu tetap menetap dan dirasakan sebagai bahan bakar untuk memulai berbagai “gerak” itu. Target, ambisi, motivasi, konsistensi, menjadi bibit-bibit yang sering kali samar dan rabun untuk memberikan arah yang jelas.
Jangan herankan, dalam diamnya Sela kerap kali terlibat konflik. Konflik Sela antar Sela, ya dengan dirinya sendiri. Ia tahu, bahkan sadari dengan jelas bahwa masalahnya ialah bukan dari 'masalah' itu sendiri, tapi justru dari dirinya sendiri. Untuk itu, hanya Sela pula satu-satunya yang dapat menjadi sosok problem solver guna mengatasinya. Walau diakui, tidak semua hal berada dalam kendali manusia. Sebagaimana Henry Manampiring dalam buku bestsellernya Filosofi Teras mengatakan bahwa ada hal-hal yang sejatinya berada diluar kendali kita. Namun, sumber penentu sebenarnya ialah berada ditangan kita sendiri. Ialah bagaimana kita dalam menilai, menyikapi dan mengontrol perasaan, pikiran hingga tindakan kita itu.
Emosi negatif seringkali menyesakkan. Mencipta ketidaknyamanan dan membuat diri egoisnya selalu merasa menjadi korban.
“Mengapa harus saya yang alami”
“Kapan berakhir kesedihan ini”
“Mengapa mereka-mereka tega seperti itu”
“Cape selalu begini..”
Ya. Merasa menjadi korban kerap selaras dengan diri yang tega melemparkan berbagai kesalahan-kesalahan yang menimpa atas dirinya. Merasa suatu “masalah” seakan sebatas menjadi batu sandungan yang menghambat dan menyakitkan. Terlebih bilamana adanya benturan keras. Lupa, bahwa batu itu pun dapat menjadi penyangga yang sebenarnya dapat membuat kita melangkah dengan meloncat lebih tinggi dan jauh. Terlebih apabila batu itu semakin besar dengan ambisi bahwa kita berani melewatinya. Ah, mungkin kedengarannya seperti motivasi penenang belaka. Sebab, siapapun mereka intinya memang tak akan sepenuhnya akrab dengan kedatangan suatu masalah.
“Kesenjangan antara harapan dan kenyataan”
Definisi masalah. Dalam salah satu kelas mata kuliah saat sedang sibuk-sibuknya menjadi mahasiswa aktif, dosen memberitahu akan itu. Harapan menjadi dasarnya dan kenyataan yang seringkali apa adanya dan tak mau terpengaruhi apakah harapan-harapan manusia bisa atau tidak sejalan dengannya.
Berkisah kembali mengenai Sela. Ia pun menjadi pemeran dan bermain dalam labirin masalah itu. Namun, sejak awal ia telah salah. Sela keliru karena sebenarnya hingga kini ia tak kemana-mana. Sela belum menjadi pemain nyata dalam labirin masalah itu. Ya, karena realitanya ia selama ini sebatas bermain dalam diamnya, dalam labirin pikirannya sendiri. Sela masih seorang yang penakut, denial, dan terkadang berego. Menyalahkan masalah karena seolah menghantamnya yang padahal untuk melangkah dan menghadapi masalah itupun ia masih diam tak berusaha apa-apa. Sela sadari itu semua. Sebagai problem solver untuk dirinya sendiri ia pun kembali membangun motivasi itu, bahan bakar dirinya untuk gerak melangkahnya. Seperti dalam tulisannya:
"...Disaat yang padahal perlu tindakan lebih dulu. Mulai mulai mulai, gerak itu".
Pict by pexels.com

Komentar
Posting Komentar