Langsung ke konten utama

#2 Gerak, ia Sela


{Tak Berjudul}

Sepertinya ada yang keliru. Sepertinya memang harus ada yang diubah. Kesalahannya fatal, walau tetap bisa diperbaiki. Asal segera

Disayangkan sekali. Merepotkan pikiran ini terlalu dini. Disaat yang padahal perlu tindakan lebih dulu. Mulai mulai mulai, gerak itu.

Sela menghentikan ketikan Tak Berjudulnya. Apakah  memang rangkaian kata-kata itu telah mewakili luapan perasaannya atau belum, entahlah. Bagi Sela, kalimat atau quotes-qoutes motivasi terkadang ibarat zat psikotropika yang daya kerja mempengaruhinya sementara belaka. Memberikan energi menggebu untuk setelahnya dapat saja lenyap karena berbagai faktor. Tugas terberatnya kembali lagi yakni bagaimana membuat energi itu tetap menetap dan dirasakan sebagai bahan bakar untuk memulai berbagai “gerak” itu. Target, ambisi, motivasi, konsistensi, menjadi bibit-bibit yang sering kali samar dan rabun untuk memberikan arah yang jelas. 

Jangan herankan, dalam diamnya Sela kerap kali terlibat konflik. Konflik Sela antar Sela, ya dengan dirinya sendiri. Ia tahu, bahkan sadari dengan jelas bahwa masalahnya ialah bukan dari 'masalah' itu sendiri, tapi justru dari dirinya sendiri. Untuk itu, hanya Sela pula satu-satunya yang dapat menjadi sosok problem solver guna mengatasinya. Walau diakui, tidak semua hal berada dalam kendali manusia. Sebagaimana Henry Manampiring dalam buku bestsellernya Filosofi Teras mengatakan bahwa ada hal-hal yang sejatinya berada diluar kendali kita. Namun, sumber penentu sebenarnya ialah berada ditangan kita sendiri. Ialah bagaimana kita dalam menilai, menyikapi dan mengontrol perasaan, pikiran hingga tindakan kita itu.

Emosi negatif seringkali menyesakkan. Mencipta ketidaknyamanan dan membuat diri egoisnya selalu merasa menjadi korban. 

“Mengapa harus saya yang alami”

“Kapan berakhir kesedihan ini”

“Mengapa mereka-mereka tega seperti itu”

“Cape selalu begini..”

Ya. Merasa menjadi korban kerap selaras dengan diri yang tega melemparkan berbagai kesalahan-kesalahan yang menimpa atas dirinya. Merasa suatu “masalah” seakan sebatas menjadi batu sandungan yang menghambat dan menyakitkan. Terlebih bilamana adanya benturan keras. Lupa, bahwa batu itu pun dapat menjadi penyangga yang sebenarnya dapat membuat kita melangkah dengan meloncat lebih tinggi dan jauh. Terlebih apabila batu itu semakin besar dengan ambisi bahwa kita berani melewatinya. Ah, mungkin kedengarannya seperti motivasi penenang belaka. Sebab, siapapun mereka intinya memang tak akan sepenuhnya akrab dengan kedatangan suatu masalah. 

“Kesenjangan antara harapan dan kenyataan”

Definisi masalah. Dalam salah satu kelas mata kuliah saat sedang sibuk-sibuknya menjadi mahasiswa aktif, dosen memberitahu akan itu. Harapan menjadi dasarnya dan kenyataan yang seringkali apa adanya dan tak mau terpengaruhi apakah harapan-harapan manusia bisa atau tidak sejalan dengannya. 

Berkisah kembali mengenai Sela. Ia pun menjadi pemeran dan bermain dalam labirin masalah itu. Namun, sejak awal ia telah salah. Sela keliru karena sebenarnya hingga kini ia tak kemana-mana. Sela belum menjadi pemain nyata dalam labirin masalah itu. Ya, karena realitanya ia selama ini sebatas bermain dalam diamnya, dalam labirin pikirannya sendiri. Sela masih seorang yang penakut, denial, dan terkadang berego. Menyalahkan masalah karena seolah menghantamnya yang padahal untuk melangkah dan menghadapi masalah itupun ia masih diam tak berusaha apa-apa. Sela sadari itu semua. Sebagai problem solver untuk dirinya sendiri ia pun kembali membangun motivasi itu, bahan bakar dirinya untuk gerak melangkahnya. Seperti dalam tulisannya: 

"...Disaat yang padahal perlu tindakan lebih dulu. Mulai mulai mulai, gerak itu".


Pict by pexels.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANDA

Tidak ada alasan, juga bisa jadi alasan. Sampai pagi ini, rasanya masih tidak nyaman. Saat dimalam beberapa hari lalu merasa “memiliki”. Pagi setelahnya seakan memutar balikan skenario yang sebelumnya sudah kuanggap nyata. Memulai lagi, dari nol. Sesuatu yang malamnya kuyakinkan jadi sisa satu-satunya alasan bertahan. Sekilas, paginya hilang berangan. Pertanda. Satu kata yang ikut muncul mencocokologi keadaan. Kata yang entah beberapa kali ditekankan   dari buku The Alchemist by Paulo Coelho. Buku yang sementara ku baca dan masih berada di halaman 91. Menceritakan seorang pengembala domba dalam petualangan mencari harta karunnya. Membaca pertanda Saat petunjuk yang tidak selalu dalam bentuk penjelasan terang-terangan. Melainkan kode atau sebatas pertanda yang memang butuh beberapa kali terurai dan menunjukkan diri dalam berbagai bentuk. Baru kemudian perlahan dimengerti maksud tujuannya. Diceritakan, Si Pengembala masih terlibat dalam uraian pertanda yang jadi bagian dala...

BUKU PINK

  Happy Weekend! Libur sehari yang besoknya berlanjut Minggu rasanya HAPPY! Walau ditunjukan bukan dengan ekspresif sumringah ataupun bukan disambut rencana spesial tertentu. Tapi, hanya dalam to do list sederhana untuk diri sendiri. Saat ini harusnya kulakukan dengan mengejarkan to do list prioritas terakhirku yang malam sebelumnya telah kutulis sebagai bentuk rencana. Dengan niat awal ingin mengerjakan file yang berisi format rencana plan Septemberku, sambil mengambil buku pink lamaku. Berpikir barangkali ada catatan terdahuluku yang terlupa tapi bisa jadi bahan yang relate dengan rencana September 2025 ku. Menyalakan laptop, memasang earphone, dan terdorong sebagai playlist yang pertama mulai menyetel lagu Sal Priadi. “Dengan kekuatan bulan yang paling baik Harapanku besar dunia kembali asik Kelak langit terang aku bisa terbang Juga mesti mendung tetap coba tuk berkunjung Lari kehadapan orang yang ku sayang Tuhan bolehkah ini yang aku perjuangankan...” ” Audio by earp...

Besok Senin!

Minggu malam yang cukup melow. Diantara paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun melow! Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya, tebakku. Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang. Mencuci muka dengan facial wash gantle ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan.. Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen disaat membangun c...