Langsung ke konten utama

Happy EID Meski COVID Mari Tetap SOLID


00:37 Wita, 24 Mei 2020. So? What? Happy Eid Murabaq hehehe. Yaa, karena posisinya saat ini sedang menunjukkan waktu demikian, berarti esok Hari Raya Idul Fitri akan kita jumpai, baik itu saya ataupun kamu (i dont know who you are, but thanks because u read this blog, im touched).

Meja dan lemari biasanya memiliki peran lain di Hari Raya ini, menjadi penopang kue kering, kacangan-kacangan dan keripik dari hasil adonan mentega telur gula beserta antek-anteknya eh atau sebut saja kawan-kawannya. Sebab, mungkin bukan kata yang tepat untuk disandingkan disini. By the way, Jadi gimana? Saat ini apakah perasaanmu seenak kue kering andalanmu? Apakah fikiranmu sesegar minuman soda cola dari kulkas dapurmu? Atau, apakah harimu seindah motif toples kue kesayangan ibumu?

"Tarawehnya dirumah saja ya"
"Lebaran kali ini rasanya beda"
"Sedih tidak bisa kumpul-kumpul keluarga"
" Duu shalat eid dimasjid ditiadakan"
"Sahur, bukber bahkan silahturahmi sekarang sebatas online"
"Teman-teman ada yang open house ga ya?"

Melihat situasi dibeberapa orang seperti ini, kembali mengingatkan diri bahwasanya kita tak ada apa-apanya jika Allah sudah berkehendak. Siapa sangka rutinitas tahunan bahkan dari golongan yang hukumnya wajib, beberapa saat kita perlu untuk jeda dalam pelaksanaannya. Covid-19, siapa duga kita akan berkenalan dengannya? yang rasanya secara singkat telah menyeruak, menyerang, dan merampas kesehatan hingga nyawa saudara-saudara kita diberbagai daerah. Covid-19, sebab berdukanya bumi kita.

Aspek kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi dsb. menjadi korban sedih hati, simpati hingga berujung sepi. Pada prosesnya, kemudian kita masyarakat sebagai tokoh di dalamnya harus bertindak. Menghindarkan diri, memperkuat diri bagi mereka yang telah terpapar si Covid, dan mengobati bagi mereka tim medis selaku garda terdepan. Ya, notabenya, kita sama-sama berjuang. Beberapa ego mungkin masih banyak kita temui disekeliling kita. Ego diri hingga mengenyahkan kemaslahatan bersama. Media cukup menjadi saluran penghubung antara diri kita dengan realita pelik yang jauh dijangkauan kita. Walau tak sepenuhnya pula realita itu selalu mutlak keberadaanya melalui media. Sebab, jangan lupa jika beberapa media memiliki tanggungjawab tersendiri disebabkan kepemilikan dan kepentingan tertentu. Bukan hal baru lagi bahkan. Mungkin aneh jika membicarakan terkait suatu kepentingan pada lingkup media dengan berlebihan saat ini. Namun, bukan berarti tak apa-apa, justru ini menjadi hal yang sangat disayangkan. Berangkat dari buku Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer sebagai buku kedua dalam rangkaian Tetralogi Pulau Buru dan dicetak pertama kali pada tahun 1980. Dimana, pada sepenggal kisahnya dengan Minke sebagai kategori tokoh utama, telah menyinggung bagaimana besarnya keterkaitan media dengan pemilik modal. Hal ini sebagaimana kalimat percakapan antara Minke dan Khow Oh Soe yang mengatakan: "Dalam zaman modern ini tidak ada gerakan tanpa penerbitan sendiri, Tuan. Sebaliknya juga bukan? Setiap penerbitan tentu mewakilkan suatu kekuatan tertentu, ...".

Sebagai penyakit pandemik, Covid-19 dengan mudahnya untuk menjangkiti dari manusia yang satu ke manusia yang lain, sikap waspada, hati-hati hingga bijak perlu untuk kita tanamkan pada diri masing-masing. Keegoisan diri yang akan berpotensi hadirnya orang lain sebagai korban. Mengikuti aturan dan anjuran bukan hanya untuk keselamatan satu individu tertentu. Sesungguhnya, patuh, hati-hati dan bijak yang dilakukan secara pribadi maka, akan mendukung pula tercovernya orang-orang lain disekeling kita.

Berbagai perubahan tentu banyak kita rasakan dan temukan dari hadirnya fenomena pandemik ini. Perubahan yang menjadikan harus mengorbankan jarak namun dengan tetap harus berusaha  menjalankan tanggungjawab. Baik itu bagi pelajar, mahasiswa hingga pekerja. Wifi dan kuota internet dengan signal yang bagus tak perlu  lagi kita tanyakan andilnya. Sayangnya, diluar itu, duka yang kita temui ialah terhambatnya rutinitas mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan bagi beberapa saudara kita lainnya. Berkaitan itu, tentu kontribusi pemerintah dan pihak-pihak terkait amat sangat diharapkan.

Covid-19 yang reda, kekhawatiran yang mereda, tak ada lagi menerka-menerka, lapangnya hati yang kecewa, dan duka yang kemudian berganti tawa, harapan kita semua. Tapi, segala pihak tentu harus berkontribusi sebagaimana perannya masing-masing. Mari solid, menghadapi covid.
Ngomong-ngomong apakah THR masih terselip?Candaa.



Pict by pexels.com






Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANDA

Tidak ada alasan, juga bisa jadi alasan. Sampai pagi ini, rasanya masih tidak nyaman. Saat dimalam beberapa hari lalu merasa “memiliki”. Pagi setelahnya seakan memutar balikan skenario yang sebelumnya sudah kuanggap nyata. Memulai lagi, dari nol. Sesuatu yang malamnya kuyakinkan jadi sisa satu-satunya alasan bertahan. Sekilas, paginya hilang berangan. Pertanda. Satu kata yang ikut muncul mencocokologi keadaan. Kata yang entah beberapa kali ditekankan   dari buku The Alchemist by Paulo Coelho. Buku yang sementara ku baca dan masih berada di halaman 91. Menceritakan seorang pengembala domba dalam petualangan mencari harta karunnya. Membaca pertanda Saat petunjuk yang tidak selalu dalam bentuk penjelasan terang-terangan. Melainkan kode atau sebatas pertanda yang memang butuh beberapa kali terurai dan menunjukkan diri dalam berbagai bentuk. Baru kemudian perlahan dimengerti maksud tujuannya. Diceritakan, Si Pengembala masih terlibat dalam uraian pertanda yang jadi bagian dala...

BUKU PINK

  Happy Weekend! Libur sehari yang besoknya berlanjut Minggu rasanya HAPPY! Walau ditunjukan bukan dengan ekspresif sumringah ataupun bukan disambut rencana spesial tertentu. Tapi, hanya dalam to do list sederhana untuk diri sendiri. Saat ini harusnya kulakukan dengan mengejarkan to do list prioritas terakhirku yang malam sebelumnya telah kutulis sebagai bentuk rencana. Dengan niat awal ingin mengerjakan file yang berisi format rencana plan Septemberku, sambil mengambil buku pink lamaku. Berpikir barangkali ada catatan terdahuluku yang terlupa tapi bisa jadi bahan yang relate dengan rencana September 2025 ku. Menyalakan laptop, memasang earphone, dan terdorong sebagai playlist yang pertama mulai menyetel lagu Sal Priadi. “Dengan kekuatan bulan yang paling baik Harapanku besar dunia kembali asik Kelak langit terang aku bisa terbang Juga mesti mendung tetap coba tuk berkunjung Lari kehadapan orang yang ku sayang Tuhan bolehkah ini yang aku perjuangankan...” ” Audio by earp...

Besok Senin!

Minggu malam yang cukup melow. Diantara paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun melow! Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya, tebakku. Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang. Mencuci muka dengan facial wash gantle ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan.. Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen disaat membangun c...