
Kehidupan dan perilaku bersosial saat ini, ditunjukkan dalam berbagai cara. Biasanya, nilai untuk suatu keakraban dapat diukur dengan bagaimanana antar personal dalam bersikap. Sikap santai satu sama lain hingga komunikasi yang umumnya mengalir begitu saja dengan tak begitu mempertimbangankan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat saja hadir setelahnya. Umumnya, ini dikarenakan antar personal tersebut sudah saling mengetahui satu sama lain sebagai bagian dalam suatu kelompok. Sedikit banyak tentu saya cukup relate untuk ikut merasakan berbagai hal yang terjadi dalam kelompok. Hal ini pula yang mendorong saya sehingga tertarik untuk mengangkat topik ini. Biasanya, terbentuknya suatu kelompok seperti dalam pertemanan disamping atas dasar saling membutuhkan, ialah juga disebabkan atas dasar kesamaan dan kecocokan antar anggota. Entah itu kondisi, sikap, minat, hobi dan sebagainya sehingga seiring waktu tentu akan menimbulkan keakraban itu sendiri. Sayangnya, komunikasi yang notabenya menjadi penunjang dalam mengeratkan suatu hubungan, pada situasi dan kondisi tertentu dapat pula berbalik arah dengan menjadi sebab timbulnya kerenggangan hingga pertikaian. Walaupun demikian, tak bijak bila asumsi ini menjadi tolak ukur sepenuhnya dalam menilai suatu kelompok. Setiap kelompok tentu mempunyai karakteristik, pengalaman, kebiasaan hingga sikap personalnya yang berbeda-beda. Mengecilkan sedikit lingkup terkait bahasan ini, mari mengambil sepenggal fenomena sosial yang masih dalam kaitannya dengan komunikasi kelompok.
"Diet woy, ingat badan"
"Badan tulang semua ,,"
"Kamu cantik kalau lebih kurus"
"Ade kok lebih tinggi daripada kakaknya"
"Bajumu ndak cocok sama badanmu"
"Eh kamu kenapa tambah kurus"
Pernah mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat yang kurang lebih seperti di atas? Beberapa orang diantaranya mengenalnya dengan sebutan Body Shaming. Istilah ini belakangan mulai ramai menjadi bahasan di kalangan muda mudi. Body shaming ini sendiri dapat diartikan sebagai tindakan mengomentari tubuh seseorang. Memangnya apa yang salah? Sayangnya, tindakan ini dapat berdampak buruk pada mental seseorang yang dikomentari. Tak semua orang memiliki kepercayaan diri yang setara. Kita tak tau, seberapa berat usaha individu bersangkutan mencoba berdamai dengan dirinya terkait negative body image tersebut.
Entah menurut orang lain, tapi dari pengamatan saya, istilah ini cukup ramai tersodorkan dalam kalangan anak muda. Bahkan, disamping banyak istilah lainnya yang kini dikenal dalam kehidupan sosial, body shaming menjadi salah satu bahasan yang cukup dianggap serius dan begitu relate bila dikaitkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Meira Anastasia, seorang istri sutradara sekaligus produser dan komika Indonesia Ernest Prakarsa, menulis sebuah buku terkait persolan ini dengan judul Imperfect. Dimana, setelahnya mulai diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar dan mendapat sambutan dengan berhasil menyentuh hati penontonnya. Jika searching di berbagai platform pun, rasanya tak ada bahasan yang terlewat dari topik ini.
Realitanya, body shaming ini justru tak jarang ditemui dalam kehidupan bersosial dan oleh orang-orang terdekat dalam suatu kelompok. Kembali lagi bahwa nilai keakraban yang menjadikan komunikasi mudah saja untuk mengalir. Tak terkecuali komunikasi dalam pergaulan terkait body shaming. Jangan salah, saya pun juga pernah berada dalam situasi tersebut. Malah saya sendiri yang menjadi pelaku sekaligus menjadi orang yang dituju pula. Postur tubuh yang tidak begitu tinggi dan kurus, cukup menjadi bahan candaan teman-teman. YA "Bercanda". Terlepas dari itu, saya justru teringat teman yang mungkin pernah saya "bercandain" juga seperti itu. Jujur, walaupun cukup sering, sepenuhnya saya sendiri tak sampai mengambil hati. Meskipun pernah ada suatu momen ketika ketemu teman lama di suatu acara. Sambil si dia lebih dulu memperhatikan pakaianku, lalu kemudian nyeletuk bilang kenapa saya tambah kurus, dengan ekspresi benar-benar serius. Of course, saat itu intinya berarti pakaianku memang tidak begitu cocok terlihat di tubuhku, pikirku. Setelahnya saya baik-baik saja, tidak jengkel apalagi menangis. Tapiiii sepulang dirumah, cermin dikamar bosan berhadapan dengan saya. Ya. saya bercermin berkali-kali cukup lama. "Sekurus itukah saya?" dalam hati. Tapi, tentu kita tak bisa menyamaratakan mental seseorang. Apa-apa di saya bukan berarti apa-apa juga bagi orang lain. Sebaliknya, tidak apa-apa bagi saya mengenai body shaming tertentu, bukan berarti tidak apa-apa pula bagi orang lain, bukan?
Ada kutipan menarik yang saya dengar dari salah satu podcast penulis muda Indonesia Tsana atau yang lebih dikenal dengan author: Rintiksedu. Kutipannya berbunyi "Betapa pengaruhnya lingkungan terhadap titik kepercayaan seseorang". Mungkin terdengarnya sederhana. Tapi bukankah memang justru hal sederhana yang tak jarang malah diabaikan? Ya. Sebab, kembali lagi bahwa, orang asing tentu tak akan secara gamblang dan langsung dalam berkata kepada seseorang yang dianggapnya asing pula. So, perumpaan inilah yang menjadi gambaran bahwa justru orang-orang terdekatlah yang mudah dalam melanturkan perkataan yang dapat saja mempengaruhi mental pendengar yang ditujunya.
"Namanya juga teman, kan becanda". "Jangan baper, kan becanda" Bla bla bla. Mengkritisi kejujuran yang menyakitkan terlebih terhadap jalinan kelompok pertemanan mungkin akan ternilai berlebihan. Tapi, ini juga bukan mendorong untuk lebih memilih kebohongan walaupun tersaji secara manis. Berangkat dari kutipan lain, kali ini dari seorang dosen dan pakar komunikasi Korea Selatan dalam bukunya yang terkenal dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa termaksuk Indonesia : The Secret Habits To Master Your Art Of Speaking: Bicara Itu Ada Seninya - Oh Su Hyang. Kutipannya menyatakan: "Jika di bidang musik ada orang yang "buta nada", di dalam aktivitas bicara pun ada orang yang "buta ucapan". Meraka adalah orang yang merusak suasana dengan ucapan yang tidak sesuai dengan tempatnya...".
Dalam kajian komunikasi bahkan terang-terangan menjelaskan bahwasanya komunikator yang baik penting untuk melihat situasi dan kondisi khalayaknya. Entah itu background pendidikan, pekerjaan, budaya dan lain-lain. Maka, kenapa tidak untuk menerapkannya dalam kehidupan sosial yang lebih sederhana. Banyak cara untuk menyampaikan saran, pesan, kritik dan sejenisnya dalam cara yang baik. Sebagaimana yang dijelaskan dalam teori Konstruktivisme. Dimana teori ini berusaha untuk menjelaskan perbedaan individu dalam kemampuannya untuk berkomunikasi terampil dalam situasi sosial. (Jessie Delisn, 1982). Dengan demikian persolan komunikasi dengan perlu mempertimbangan situasi dan kondisi komunikan bukanlah hal sepele.
Tak ada yang salah dalam ciptaan tuhan. Tapi dirilah yang kadang kurang bersyukur. Lebih dari itu, jangan jadikan ucapan kita atas nama "becanda" itu yang malah menjadi boomerang dengan timbulnya ketidaksyukuran dan insecurity orang lain. Body shaming is not a joke, sometimes. Kelompok pertemanan yang baik ialah yang mengerti antar satu sama lain. Mengerti pula untuk menjaga perasaan dengan kata dalam berkomunikasi.
"Diet woy, ingat badan"
"Badan tulang semua ,,"
"Kamu cantik kalau lebih kurus"
"Ade kok lebih tinggi daripada kakaknya"
"Bajumu ndak cocok sama badanmu"
"Eh kamu kenapa tambah kurus"
Pernah mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat yang kurang lebih seperti di atas? Beberapa orang diantaranya mengenalnya dengan sebutan Body Shaming. Istilah ini belakangan mulai ramai menjadi bahasan di kalangan muda mudi. Body shaming ini sendiri dapat diartikan sebagai tindakan mengomentari tubuh seseorang. Memangnya apa yang salah? Sayangnya, tindakan ini dapat berdampak buruk pada mental seseorang yang dikomentari. Tak semua orang memiliki kepercayaan diri yang setara. Kita tak tau, seberapa berat usaha individu bersangkutan mencoba berdamai dengan dirinya terkait negative body image tersebut.
Entah menurut orang lain, tapi dari pengamatan saya, istilah ini cukup ramai tersodorkan dalam kalangan anak muda. Bahkan, disamping banyak istilah lainnya yang kini dikenal dalam kehidupan sosial, body shaming menjadi salah satu bahasan yang cukup dianggap serius dan begitu relate bila dikaitkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Meira Anastasia, seorang istri sutradara sekaligus produser dan komika Indonesia Ernest Prakarsa, menulis sebuah buku terkait persolan ini dengan judul Imperfect. Dimana, setelahnya mulai diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar dan mendapat sambutan dengan berhasil menyentuh hati penontonnya. Jika searching di berbagai platform pun, rasanya tak ada bahasan yang terlewat dari topik ini.
Realitanya, body shaming ini justru tak jarang ditemui dalam kehidupan bersosial dan oleh orang-orang terdekat dalam suatu kelompok. Kembali lagi bahwa nilai keakraban yang menjadikan komunikasi mudah saja untuk mengalir. Tak terkecuali komunikasi dalam pergaulan terkait body shaming. Jangan salah, saya pun juga pernah berada dalam situasi tersebut. Malah saya sendiri yang menjadi pelaku sekaligus menjadi orang yang dituju pula. Postur tubuh yang tidak begitu tinggi dan kurus, cukup menjadi bahan candaan teman-teman. YA "Bercanda". Terlepas dari itu, saya justru teringat teman yang mungkin pernah saya "bercandain" juga seperti itu. Jujur, walaupun cukup sering, sepenuhnya saya sendiri tak sampai mengambil hati. Meskipun pernah ada suatu momen ketika ketemu teman lama di suatu acara. Sambil si dia lebih dulu memperhatikan pakaianku, lalu kemudian nyeletuk bilang kenapa saya tambah kurus, dengan ekspresi benar-benar serius. Of course, saat itu intinya berarti pakaianku memang tidak begitu cocok terlihat di tubuhku, pikirku. Setelahnya saya baik-baik saja, tidak jengkel apalagi menangis. Tapiiii sepulang dirumah, cermin dikamar bosan berhadapan dengan saya. Ya. saya bercermin berkali-kali cukup lama. "Sekurus itukah saya?" dalam hati. Tapi, tentu kita tak bisa menyamaratakan mental seseorang. Apa-apa di saya bukan berarti apa-apa juga bagi orang lain. Sebaliknya, tidak apa-apa bagi saya mengenai body shaming tertentu, bukan berarti tidak apa-apa pula bagi orang lain, bukan?
Ada kutipan menarik yang saya dengar dari salah satu podcast penulis muda Indonesia Tsana atau yang lebih dikenal dengan author: Rintiksedu. Kutipannya berbunyi "Betapa pengaruhnya lingkungan terhadap titik kepercayaan seseorang". Mungkin terdengarnya sederhana. Tapi bukankah memang justru hal sederhana yang tak jarang malah diabaikan? Ya. Sebab, kembali lagi bahwa, orang asing tentu tak akan secara gamblang dan langsung dalam berkata kepada seseorang yang dianggapnya asing pula. So, perumpaan inilah yang menjadi gambaran bahwa justru orang-orang terdekatlah yang mudah dalam melanturkan perkataan yang dapat saja mempengaruhi mental pendengar yang ditujunya.
"Namanya juga teman, kan becanda". "Jangan baper, kan becanda" Bla bla bla. Mengkritisi kejujuran yang menyakitkan terlebih terhadap jalinan kelompok pertemanan mungkin akan ternilai berlebihan. Tapi, ini juga bukan mendorong untuk lebih memilih kebohongan walaupun tersaji secara manis. Berangkat dari kutipan lain, kali ini dari seorang dosen dan pakar komunikasi Korea Selatan dalam bukunya yang terkenal dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa termaksuk Indonesia : The Secret Habits To Master Your Art Of Speaking: Bicara Itu Ada Seninya - Oh Su Hyang. Kutipannya menyatakan: "Jika di bidang musik ada orang yang "buta nada", di dalam aktivitas bicara pun ada orang yang "buta ucapan". Meraka adalah orang yang merusak suasana dengan ucapan yang tidak sesuai dengan tempatnya...".
Dalam kajian komunikasi bahkan terang-terangan menjelaskan bahwasanya komunikator yang baik penting untuk melihat situasi dan kondisi khalayaknya. Entah itu background pendidikan, pekerjaan, budaya dan lain-lain. Maka, kenapa tidak untuk menerapkannya dalam kehidupan sosial yang lebih sederhana. Banyak cara untuk menyampaikan saran, pesan, kritik dan sejenisnya dalam cara yang baik. Sebagaimana yang dijelaskan dalam teori Konstruktivisme. Dimana teori ini berusaha untuk menjelaskan perbedaan individu dalam kemampuannya untuk berkomunikasi terampil dalam situasi sosial. (Jessie Delisn, 1982). Dengan demikian persolan komunikasi dengan perlu mempertimbangan situasi dan kondisi komunikan bukanlah hal sepele.
Tak ada yang salah dalam ciptaan tuhan. Tapi dirilah yang kadang kurang bersyukur. Lebih dari itu, jangan jadikan ucapan kita atas nama "becanda" itu yang malah menjadi boomerang dengan timbulnya ketidaksyukuran dan insecurity orang lain. Body shaming is not a joke, sometimes. Kelompok pertemanan yang baik ialah yang mengerti antar satu sama lain. Mengerti pula untuk menjaga perasaan dengan kata dalam berkomunikasi.
Pict by pexels.com
Komentar
Posting Komentar