1. Ujian/cobaan hidup adalah salah satu perantara terkabulnya doa
2. Diantara sumber masalah terbesar ialah karna ego yang masih dilekatkan pada diri
3. Sesuatu yang dilakukan dengan hati akan sampai dan dirasakan juga oleh hati
4. Walaupun bisa melakukan sendiri, tidak mengapa sesekali berbalik meminta/melibatkan bantuan dari orang lain
Saat seseorang menawarkan bantuan tidak selalu atas keinginan membuat orang lain merasa terbantu. Tapi, mengetahui karna dengan memberikan manfaat bagi orang lain adalah satu dari diantara banyaknya sumber kebahagiaan dan kebanggaan untuk diri.
Saat merasa bangga, berharga, dan bahagia karna merasa berguna setelah memberikan pertolongan untuk orang lain. Setelahnya tak mengapa walau bisa melakukan sendiri, ikutlah meng ‘iya-kan’ terima tawaran bantuan/pertolongan dari mereka pula, sesimple apapun itu. Biarkan orang lain ikut merasa bangga dan berharga atas diri mereka sendiri.
5. Berasal dari isi kutipan buku “Love for Imperfect Things” by Haemin Sunim. Bernafas adalah cara untuk kembali ke masa kini. Menghindari kekhawatiran atas masa depan dan keterpurukan karna masa lalu.
Merasakan tarikan dan hembusan nafas: Menyadari bahwa faktanya kita ada dimasa kini yang menjadikan kita memiliki kuasa atas apa yang kita inginkan dan wujudkan atas itu.* ah menjadi buku yang tak pernah ada akhir untuk terus berulang dibaca 😊
6. Saat kondiri kita masih terpengaruh atas orang lain, merasa berhak menghakimi orang lain, dan memiliki waktu dan energi mempertanyakan tindakan orang lain yang tidak sesuai harapan. Tanda bahwa sebenarnya diri kita yang masih belum cukup sibuk untuk menyelesaikan tanggungjawab sendiri.
Menjadi ‘cape’ untuk rutinitas harian yang jadi tanggungjawab dapat sekaligus jadi berkah karna dapat membatasi ruang untuk menilai hidup orang lain.
7. “Nikmat adalah segala sesuatu yang mendekatkan kita dengan Allah”
Kutipan dari Uztad muda yang sekarang masuk list pendakwah favoritku. Menjawab atas pertanyaanku sendiri, yang sebelumnya bingung memaknai saat sedang merasa diberi cobaan/ujian hidup. Apakah ini ujian untuk memang jadikanku lebih baik atau sebenarnya cobaan karna dosa sendiri.
Saat kecewa, sedih, terpuruk dan setelahnya justru menjadi perantara shalat lebih khusu, doa lebih lama, ibadah lebih nikmat dan bertambah dan harapan hanya kepada-NYA.
“Bukankah justru itu nikmat sebenarnya?”
8. Tak perlu memastikan penilaian tiap orang lain atas diri kita. Tanpa mempertanyakannya, penilaian itu sudah lebih dulu terjadi dari bagaimana dan cara kita dalam membawa diri dan memperlakukan orang lain.
Be Nice, tulus, welas asih. Niatkan tiap ikhtiar sebagai ibadah. Saat penilaian Allah baik, penilaian manusia bukanlah persoalan. Walau biasanya, tentu akan selalu ada kebaikan yang berbalik atas tiap benih kebaikan yang ditanam.
9. Hanya karna merasa tidak akrab dan sulit dekat dengan seseorang. Bukan berarti ada yang salah diantaranya atau keduanya. Beberapa hubungan memang mempunyai porsi berbeda dan perannya masing-masing.
Tetaplah percantik sikap, hati, dan prasangka..
10. Saat kesulitan justru terasa lebih mudah untuk menjadi momen kita mengingat-NYA. Dibanding saat kita sedang bahagia karna dalih bahwa kita lagi belum membutuhkan-NYA.
Belum beberapa lama ini sadar, ternyata saat berbahagia pun dapat sekaligus ikut jadi cobaan. Sebab, saat itulah perlu usaha lebih untuk tetap mengingat Allah tanpa tameng berdoa karna alasan meminta sesuatu.
Baru paham, itulah mengapa kesedihan dan kebahagian itu sementara dan dapat terjadi diluar kehendak. Tapi, ketenangan hati bisa kita ciptakan. Karna dalam ketenangan itu, entah sedang dalam situasi apapun, kuasa tetap ada ditangan kita.
Termaksud untuk membuat hati kita selalu merasa dekat dengan-NYA.
Pada akhirnya, bagaimana bisa risau dan khawatir saat Sang Maha Penguasa Langit dan Bumi, justru sedang bersama kita. Dengan harap kebaikan-kebaikan pun terbuka pintunya untuk menghampiri kita sebagai hamba-NYA.. Aammiin..
End^^
Behind the text: Jejesngoceh on!
10 Pelajaran Hidup U 26’ dengan ketikan sedikit banyak menggambarkan atas apa yang kualami, lewati, dan mengambil makna atas karnanya. Walau angka ‘10’ diatas rasanya tentu kurang untuk mendetailkan tiap pelajaran yang akhirnya saya ambil dari banyak situasi. Tapi, bersama angka ‘26’ setelahnya, membantu dalam memberikan gambaran tambahan atas luar biasanya tiap momen jika telah di imani sebagai hikmah.
Se simpel momen 26 tahun yang kurasakan usai mendapatkan ucapan dihari spesial pertambahan umurku. Momen ketika merasa “walau tanpa mendapatkan ucapan pun, itu tidak apa-apa. Bukan soal". Tapi, mendapatkan ucapan dari rekan terdekat bahkan sampai dari beberapa orang yang sudah lama tidak bertemu lama justru itu memberikan perasaan luar biasa. Bahagia, terharu.
Belajar bahwa “Perhatian kecil, pesan singkat walau sebatas melalui media media sosial dan doa yang terkesan template dapat menjadi hal sederhana namun bernilai tinggi bagi seseorang sebagai yang menerimanya.
Mulai menyukai hari ulang tahun. Bukan karna kue yang diterima atau hadiah yang diperoleh suka rela. Tapi, justru karna adanya momen ini tiap dari kita memiliki jatah yang sama untuk saling memberi dan menerima perhatian. Saat di hari biasa kita yang masih dibalut rasa gengsi, rasa malu, dan perasaan bahwa “segininya cukup, saya baik-baik saja”.
Walau tidak berlaku disemua orang, tapi berharga untuk mereka yang tidak selalu merasa memiliki momen untuk mudah mengutarakan perasaaan dan menerima ucapan dan perlakuan kasih sayang. Karna “Walau berbeda cara meresponnya, kita selalu menginginkan perasaan dianggap ada, berharga dan disayangi”
Terimakasih untuk tiap momen dan orang-orang yang jadi sumber pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan. Walau di awal tidak selalu mudah dipelajari dan dimengerti hikmah dibaliknya. Tapi, proses yang perlahan itu menjadikan saya dapat lebih dalam pula untuk belajar hingga bisa memetik buah kebaikan dengan penuh rasa syukur~
Selamat 26 tahun, Happy Birthday! <3

Komentar
Posting Komentar