Langsung ke konten utama

STICKY NOTES



“Semoga kita bisa menjadi penggemar berat diri kita sendiri”

Beralas sticky notes kuning, kutipan itu tepat tertera didepanku yang duduk didepannya sedang ‘dia’ yang tertempel pasrah ditembok pink kamarku. Diantaranya, tempelan stikinotes lain ikut terpampang berisi tulisan tangan yang kutulis saat sedang berada dipuncak semangat suatu malam. Seakan mencoba membackup motivasi dan energi diri dengan tulisan yang kupampang disekitar meja belajarku kalau-kalau sedang merasa tidak baik-baik saja. Dan harap, barangkali dengan membacanya dimalam lain, dapat menarikku ke dalam semangat sebagaimana saat ku mulai tulis dan menatanya dengan hati-hati.

Jadi, malam ini bagaimana memangnya?” Ucapku, dari pertanyaan isi kepalaku sendiri.

Dan tak ada jawaban lanjutannya..

“Semoga kita bisa menjadi penggemar berat diri kita sendiri”.

Kutipan ini kembali berulang. Penggemar? Diri? Diri kita sendiri? Berbeda saat malam kumulai menempelkannya ditembok, malam ini rasanya harus menjadi pembelajar dan perlu memahaminya kembali. Rutinitas berulang belakangan ini dan mengeksplor sampai memerlukan banyak energi seakan menjadikanku menempuh perjalanan jauh. Entah seberapa jauh, jalan untuk kembali itu jadi kabut yang sudah melepas tiap bagian diriku. Dengan maksud mengumpulkan diriku yang ibarat terpecah dalam perjalanan. Namun, jalan yang sudah tertempuh ini, sedang kurang baik untuk membuatku membalikan diri untuk kembali. Kesibukan yang ternyata mengambil bagian diri sendiri. 

"Atau sebenarnya, saya sendiri yang kurang baik dalam me manage diri? Hmm"

Lalu bagaimana untuk menjadi penggemar saat diri sendiri tidak merasa utuh dan perlu penataan ulang kembali. Mulai dari mana ya? Mulai memahami persaingan sesungguhnya ialah melawan diri sendiri.

Banyak yang harus diperbaiki

Banyak yang perlu ditata kembali 

Banyak yang perlu diraih kembali

Dan banyak hal yang perlu kembali saat belakangan ini sedang melepaskan diri. 

Karna ternyata ini tentang mencari diri sendiri. 

Memahami diri kembali. Mengetahui tujuan kembali. Mencipta semangat dan motivasi diri kembali. Dan mencintai diri kembali.

“Saat kita mulai menyayangi diri sendiri, kita bisa menyayangi seisi dunia”

Kutipan dari sticky notes yang kuselipkan ditembok dengan posisi paling bawah diantara yang lain. 

Mengakhiri ketikan dan mari mulai mengatur semuanya kembali. Untuk kasih sayang yang perlu dipersiapkan setidaknya lebih dulu cukup untuk diri sendiri” jawabku dari pertanyaan setelah paragraf pertama diatas.

Bye, selamat malam.. 



Pict. By pexels.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANDA

Tidak ada alasan, juga bisa jadi alasan. Sampai pagi ini, rasanya masih tidak nyaman. Saat dimalam beberapa hari lalu merasa “memiliki”. Pagi setelahnya seakan memutar balikan skenario yang sebelumnya sudah kuanggap nyata. Memulai lagi, dari nol. Sesuatu yang malamnya kuyakinkan jadi sisa satu-satunya alasan bertahan. Sekilas, paginya hilang berangan. Pertanda. Satu kata yang ikut muncul mencocokologi keadaan. Kata yang entah beberapa kali ditekankan   dari buku The Alchemist by Paulo Coelho. Buku yang sementara ku baca dan masih berada di halaman 91. Menceritakan seorang pengembala domba dalam petualangan mencari harta karunnya. Membaca pertanda Saat petunjuk yang tidak selalu dalam bentuk penjelasan terang-terangan. Melainkan kode atau sebatas pertanda yang memang butuh beberapa kali terurai dan menunjukkan diri dalam berbagai bentuk. Baru kemudian perlahan dimengerti maksud tujuannya. Diceritakan, Si Pengembala masih terlibat dalam uraian pertanda yang jadi bagian dala...

BUKU PINK

  Happy Weekend! Libur sehari yang besoknya berlanjut Minggu rasanya HAPPY! Walau ditunjukan bukan dengan ekspresif sumringah ataupun bukan disambut rencana spesial tertentu. Tapi, hanya dalam to do list sederhana untuk diri sendiri. Saat ini harusnya kulakukan dengan mengejarkan to do list prioritas terakhirku yang malam sebelumnya telah kutulis sebagai bentuk rencana. Dengan niat awal ingin mengerjakan file yang berisi format rencana plan Septemberku, sambil mengambil buku pink lamaku. Berpikir barangkali ada catatan terdahuluku yang terlupa tapi bisa jadi bahan yang relate dengan rencana September 2025 ku. Menyalakan laptop, memasang earphone, dan terdorong sebagai playlist yang pertama mulai menyetel lagu Sal Priadi. “Dengan kekuatan bulan yang paling baik Harapanku besar dunia kembali asik Kelak langit terang aku bisa terbang Juga mesti mendung tetap coba tuk berkunjung Lari kehadapan orang yang ku sayang Tuhan bolehkah ini yang aku perjuangankan...” ” Audio by earp...

Besok Senin!

Minggu malam yang cukup melow. Diantara paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun melow! Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya, tebakku. Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang. Mencuci muka dengan facial wash gantle ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan.. Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen disaat membangun c...