Langsung ke konten utama

Rasa - Menjadi Manusia


Hai !!

I'm back ...

Lampu kamar mati total, lampu tidur belum lama ini rusak. Cukup gelap, yang kemudian kuminimalisir dengan blizt handphone yang akhirnya dinyalakan. Lampu utama yang terlalu terang bila on dan begitu amat gelap pekat bila dimatikan. Tidak ada tidur saat sekedar lampu yang diredupkan. Jangan lupa, benda yang kerap menjadi jejak pijakan terakhir tentu saja kembali pada si benda pintar smartphone, sebelum terlelap.

Seperti saat ini.

Rasanya sudah terlalu lama. Banyak situasi yang saling bertimpa sehingga menjadi cerita yang beraneka. Jadi, apa yang harus terutara?

Haha, atau ini tandanya dalam real life saya begitu cukup sibuk sehingga untuk kembali bercerita seperti ini butuh rentang waktu yang berlangsung lama dan kikuk.

Atau apakah ini juga sebagai tanda bahwa bagaimana saya yang seharusnya mengayam semua situasi dan cerita dalam satu tali sebuah rasa?  :)

Ahh jujur sebelum ini, ada terpikir apakah saya masih bisa berkisah dalam kata. Sampai ketikan terakhir, Alhamdulillah ternyata lumayan masih bisa kunikmati. 

Seperti saat ini.

Mari menganyam tali untuk sebuah rasa itu.

Sampai memasuki ketikan ini, waktu sudah menunjukkan pukul 22:00. Cukup lamaku berpikir kalimat apa yang sebenar-benarnya dapat mewakili rasaku saat ini. Sampai kulihat diatas layar handphone dan menujukkan tepat 10 malam. Untuk angka 00 ibarat gambaran bagaimana akupun yang berpikir untuk memulai dari nol. Tapi, apa yang sebenarnya ku mulai? Hahaha.

Rasaku hari ini, saat ini lapang. Entah mengapa, begitu lapang. Bila bisa terlihat, semua ibarat dekapan yang menjadi uap dan terserap kembali dalam tiap panca indraku. Begitu terasa, nyata, walau tak tergambar dalam dinding kaca.

Seperti uap, sebuah rasa pun dapat mudah saja mengepul dan mudah saja juga untuk kembali menipiskan kepulannya, lalu kemudian menghilang. On process. Semua berjalan seperti dalam salah satu tweet twitter yang pernah kutulis: "Kadang rasa seakan mimpi, karena saking cepatnya tiap momen berlalu, berganti, dan berhenti..".

Seperti uap, dan begitupun seperti momen yang tak lepas dari kaitannya akan berbagai "rasa".

Sebelum kelapangan ini, bahkan sebelum ketikan haruf awal tulisan ini, rasa lainnya jujur lebih dulu menyelimutiku. Ya, rasa terkait keinginan, harapan, sekaligus rasa pasrah dan berserahku.

Situasi dimana adanya sosok 'objek' dan 'nilai' yang menimbulkan derasnya alir keinginanku. Bertimbul harapan untuk adanya momen kepemilikan. Dan ini, sampai hari ini masih dalam kemasan kotak harapanku. Kotak tak kasat mata untuk sekelilingku. Tapi, begitu kasat akan rasaku.

Sampai akhirnya, seakan tali pita kotak itu yang perlahan melepaskan diri dari ikatannya dan menjatuhkan sebuah notes singkat. Berisikan: "Sudah pantaskah kamu untuk memiliki hak kepemilikan atas kotak harapan ini?" 

Sering kali kadang kita berpikir "Apakah sesuatu itu pantas untuk saya miliki?" tanpa terpikir adil dengan pertanyaan: "Apakah sudah pantas saya memilikinya?"

Objek dan nilai nyatanya tidak hanya untuk kita sebagai penilai bagi mereka. Tapi bagaimana kitapun yang turut ikut menjadi objek dengan memiliki sebuah nilai itu, yang berharga.

Bahkan, mungkin saja adanya keinginan dan harapan bukan hanya soal memiliki atau tidak memiliki. Tapi, menjadi sebuah perantara untuk kemudian adanya gerbang untuk kita melihat pijakan dan kemudian mengukur dan menilai diri. Dan pada akhirnya semua kembali mengenai sebuah cerita tentang diri sendiri.

Olehnya itu, sebagai alasan itulan adanya kalimat pasrah dan berserah setelah kenginan dan sebuah  harapan.

Kemasan-kemasan rasa dalam berbagai kisah ini, ternyata berduduk dalam titik anyaman terakhir. Anyaman yang menjadi finish sebuah rasa yang semuanya akan kembali menerpa tiap diri dari kita. Meski tak sama akan waktu dan situasi kondisi, tetapi kita akan tetap berada dalam titik akhir anyaman rasa yang sama itu. Karna kita sama. Memiliki sebuah dasar rasa yang sama. 

Yaitu rasa Menjadi Manusia.

 

Dibuat khusus untuk orang-orang pernah bersentuhan langsung maupun tidak langsung dalam kisahku. Untuk kamu yang dekat, untuk kamu yang berjarak, maupun untuk kamu yang berjarak padahal ingin dekat **

Terimakasih... 



Pict by pexels.com








Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANDA

Tidak ada alasan, juga bisa jadi alasan. Sampai pagi ini, rasanya masih tidak nyaman. Saat dimalam beberapa hari lalu merasa “memiliki”. Pagi setelahnya seakan memutar balikan skenario yang sebelumnya sudah kuanggap nyata. Memulai lagi, dari nol. Sesuatu yang malamnya kuyakinkan jadi sisa satu-satunya alasan bertahan. Sekilas, paginya hilang berangan. Pertanda. Satu kata yang ikut muncul mencocokologi keadaan. Kata yang entah beberapa kali ditekankan   dari buku The Alchemist by Paulo Coelho. Buku yang sementara ku baca dan masih berada di halaman 91. Menceritakan seorang pengembala domba dalam petualangan mencari harta karunnya. Membaca pertanda Saat petunjuk yang tidak selalu dalam bentuk penjelasan terang-terangan. Melainkan kode atau sebatas pertanda yang memang butuh beberapa kali terurai dan menunjukkan diri dalam berbagai bentuk. Baru kemudian perlahan dimengerti maksud tujuannya. Diceritakan, Si Pengembala masih terlibat dalam uraian pertanda yang jadi bagian dala...

BUKU PINK

  Happy Weekend! Libur sehari yang besoknya berlanjut Minggu rasanya HAPPY! Walau ditunjukan bukan dengan ekspresif sumringah ataupun bukan disambut rencana spesial tertentu. Tapi, hanya dalam to do list sederhana untuk diri sendiri. Saat ini harusnya kulakukan dengan mengejarkan to do list prioritas terakhirku yang malam sebelumnya telah kutulis sebagai bentuk rencana. Dengan niat awal ingin mengerjakan file yang berisi format rencana plan Septemberku, sambil mengambil buku pink lamaku. Berpikir barangkali ada catatan terdahuluku yang terlupa tapi bisa jadi bahan yang relate dengan rencana September 2025 ku. Menyalakan laptop, memasang earphone, dan terdorong sebagai playlist yang pertama mulai menyetel lagu Sal Priadi. “Dengan kekuatan bulan yang paling baik Harapanku besar dunia kembali asik Kelak langit terang aku bisa terbang Juga mesti mendung tetap coba tuk berkunjung Lari kehadapan orang yang ku sayang Tuhan bolehkah ini yang aku perjuangankan...” ” Audio by earp...

Besok Senin!

Minggu malam yang cukup melow. Diantara paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun melow! Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya, tebakku. Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang. Mencuci muka dengan facial wash gantle ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan.. Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen disaat membangun c...