Seyogianya, kehidupan membentuk keterkaitan panjang tali-temali antar tiap masa. Untuk sebuah keseimbangan yang memang seharusnya ada. Sebagaimana waktu dan sebagaimana momentum. Ibarat pertunjukkan yang dikatakan "baru", digelar untuk dipertontonkan juga diperankan. Tetapi, pertunjukan yang dilabelkan "baru digelar” itu, apakah benar-benar sebagai rintisan awal mula? Benar-benar orisinil? Nyatanya, tentu tidak selalu. Sebab, momentum baru yang seolah minta untuk disambut kadangkala masih kerap membawa bayangan pertunjukkan terdahulu. Ya, terikat membentuk tali-temali. Bayangan yang diri sadari jelas masih begitu terbersit terbawa ingatan masa lalu. Pertunjukkan yang saat itu menjadikan diri sebagai Si Pemeran tangguh.
Pemeran yang justru masih memberi pengaruh.
Dengan kata lain, hidup tidak selalu dilihat dari jenjang dan kisaran waktu. Melainkan nilai dari setiap kisah dalam perjalanan utuh. Sebab, bukan seberapa lama atau cepatnya, melainkan seberapa bernilainya kesan dari sebuah kisah yang dilalui dan diresapi itu.
2022 memang membawa lembaran kosong baru. Sebagai tirai waktu yang tentu belum dijejaki sebelumnya (terkecuali oleh Si Time Travelrer, apabila nyata). Lembaran kosong yang bebas diisi oleh berbagai harapan, doa, aktivitas dan sespesiesnya (?)
“Lembaran baru?" Tapi, bagaimana dengan bayangan masa lalu yang masih terbawa itu”? Tanya map biru dari samping kiri laptopku.
“Emm good question map". Sambutku sambil tetap mengetik.
Okey, mari berpendapat.
Kadang perlu dipahami bahwa suatu lembaran baru tidak selalu kekosongannya berisi coretan, gambar, atau berbagai cerita yang dibangun atas dasar keinginan yang serba baru pula. Tak mengapa bila coretan baru itu masih sambungan dari coretan sebelumnya. Tak salah bila cerita dalam lembaran itu masih berkisah tentang perjalanan jauh terdahulu. Dan tak mengapa bila gambaran lembar baru itupun masih terpengaruh dari bayang kala dulu.
Sebab, tak dapat terelak masa lalu akan selalu mengambil andil yang ikut membentuk kita untuk setiap masa yang baru.
Masih tersentuh masa lalu tidak selalu berarti sukar dalam memulai hidup baru. Sebab, kembali lagi, ini bukan soal waktu. Tapi, soal kamu dan aku. Soal kita. Soal masing-masing dari kita. Keinginan terbebas dari masa lalu yang menyakitkan tidak dapat diatur kapan waktunya. Melainkan tergantung dari diri tiap orang itu sendiri. Sebab, antar satu dengan lainnya memiliki waktunya sendiri-sendiri.
Begitupun dengan masa lalu yang justru ingin diraih untuk diukir kembali satu persatu. Masa lalu yang “diharap” tak berakhir, namun terpaksa harus sekedar digenggam dalam ingatan haru.
Dan aku ada disitu, sebagai si Pengharap itu.
Untuk kisah laluku, dua ribu dua puluh satu (2021).
Pict by pexels.com
Komentar
Posting Komentar