Langsung ke konten utama

Lembar Waktu

Terpampang di sudut kanan bawah layar laptop, penanggalan sudah menunjukkan akhir sang Mei. Artinya, telah berselang 5 bulan mengukir dan menjajaki  waktu dilembaran tahun 2022. Tahun yang sebenarnya bak menjadi chapter baru sekaligus membawa kita kembali pada era new normal. Bertemu dan berkumpul tidak lagi menjadi kekhawatiran yang mesti dirisaukan. Momen yang seharusnya membawa kabar gembira ibarat semerbak wangi yang menawarkan berbagai pilihan favorit. Ya, momen yang seharusnya disambut antusias. Namun, apakah demikian?

Seyogianya, kehidupan membentuk keterkaitan panjang tali-temali antar tiap masa. Untuk sebuah keseimbangan yang memang seharusnya ada. Sebagaimana waktu dan sebagaimana momentum. Ibarat pertunjukkan yang dikatakan "baru", digelar untuk dipertontonkan juga diperankan. Tetapi, pertunjukan yang dilabelkan "baru digelar” itu, apakah benar-benar sebagai rintisan awal mula? Benar-benar orisinil? Nyatanya, tentu tidak selalu. Sebab, momentum baru yang seolah minta untuk disambut kadangkala masih kerap membawa bayangan pertunjukkan terdahulu. Ya, terikat membentuk tali-temali. Bayangan yang diri sadari jelas masih begitu terbersit terbawa ingatan masa lalu. Pertunjukkan yang saat itu menjadikan diri sebagai Si Pemeran tangguh. 

Pemeran yang justru masih memberi pengaruh.

Dengan kata lain, hidup tidak selalu dilihat dari jenjang dan kisaran waktu. Melainkan nilai dari setiap kisah dalam perjalanan utuh. Sebab, bukan seberapa lama atau cepatnya, melainkan seberapa bernilainya kesan dari sebuah kisah yang dilalui dan diresapi itu. 

2022 memang membawa lembaran kosong baru. Sebagai tirai waktu yang tentu belum dijejaki sebelumnya (terkecuali oleh Si Time Travelrer, apabila nyata). Lembaran kosong yang bebas diisi oleh berbagai harapan, doa, aktivitas dan sespesiesnya (?)

Lembaran baru?" Tapi, bagaimana dengan bayangan masa lalu yang masih terbawa itu”? Tanya map biru dari samping kiri laptopku.

Emm good question map". Sambutku sambil tetap mengetik.

Okey, mari berpendapat.

Kadang perlu dipahami bahwa suatu lembaran baru tidak selalu kekosongannya berisi coretan, gambar, atau berbagai cerita yang dibangun atas dasar keinginan yang serba baru pula. Tak mengapa bila coretan baru itu masih sambungan dari coretan sebelumnya. Tak salah bila cerita dalam lembaran itu masih berkisah tentang perjalanan jauh terdahulu. Dan tak mengapa bila gambaran lembar baru itupun masih terpengaruh dari bayang kala dulu. 

Sebab, tak dapat terelak masa lalu akan selalu mengambil andil yang ikut membentuk kita untuk setiap masa yang baru.

Masih tersentuh masa lalu tidak selalu berarti sukar dalam memulai hidup baru. Sebab, kembali lagi, ini bukan soal waktu. Tapi, soal kamu dan aku. Soal kita. Soal masing-masing dari kita. Keinginan terbebas dari masa lalu yang menyakitkan tidak dapat diatur kapan waktunya. Melainkan tergantung dari diri tiap orang itu sendiri. Sebab,  antar satu dengan lainnya memiliki waktunya sendiri-sendiri.

Begitupun dengan masa lalu yang justru ingin diraih untuk diukir kembali satu persatu. Masa lalu yang “diharap” tak berakhir, namun terpaksa harus sekedar digenggam dalam ingatan haru. 

Dan aku ada disitu, sebagai si Pengharap itu. 

Untuk kisah laluku, dua ribu dua puluh satu (2021). 


Pict by pexels.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTANDA

Tidak ada alasan, juga bisa jadi alasan. Sampai pagi ini, rasanya masih tidak nyaman. Saat dimalam beberapa hari lalu merasa “memiliki”. Pagi setelahnya seakan memutar balikan skenario yang sebelumnya sudah kuanggap nyata. Memulai lagi, dari nol. Sesuatu yang malamnya kuyakinkan jadi sisa satu-satunya alasan bertahan. Sekilas, paginya hilang berangan. Pertanda. Satu kata yang ikut muncul mencocokologi keadaan. Kata yang entah beberapa kali ditekankan   dari buku The Alchemist by Paulo Coelho. Buku yang sementara ku baca dan masih berada di halaman 91. Menceritakan seorang pengembala domba dalam petualangan mencari harta karunnya. Membaca pertanda Saat petunjuk yang tidak selalu dalam bentuk penjelasan terang-terangan. Melainkan kode atau sebatas pertanda yang memang butuh beberapa kali terurai dan menunjukkan diri dalam berbagai bentuk. Baru kemudian perlahan dimengerti maksud tujuannya. Diceritakan, Si Pengembala masih terlibat dalam uraian pertanda yang jadi bagian dala...

BUKU PINK

  Happy Weekend! Libur sehari yang besoknya berlanjut Minggu rasanya HAPPY! Walau ditunjukan bukan dengan ekspresif sumringah ataupun bukan disambut rencana spesial tertentu. Tapi, hanya dalam to do list sederhana untuk diri sendiri. Saat ini harusnya kulakukan dengan mengejarkan to do list prioritas terakhirku yang malam sebelumnya telah kutulis sebagai bentuk rencana. Dengan niat awal ingin mengerjakan file yang berisi format rencana plan Septemberku, sambil mengambil buku pink lamaku. Berpikir barangkali ada catatan terdahuluku yang terlupa tapi bisa jadi bahan yang relate dengan rencana September 2025 ku. Menyalakan laptop, memasang earphone, dan terdorong sebagai playlist yang pertama mulai menyetel lagu Sal Priadi. “Dengan kekuatan bulan yang paling baik Harapanku besar dunia kembali asik Kelak langit terang aku bisa terbang Juga mesti mendung tetap coba tuk berkunjung Lari kehadapan orang yang ku sayang Tuhan bolehkah ini yang aku perjuangankan...” ” Audio by earp...

Besok Senin!

Minggu malam yang cukup melow. Diantara paginya saat merasa berhak ber leha-leha menikmati Minggu. Siang, mandi berlanjut menjadi mode ambis beralatkan laptop. Lalu malamnya karna suatu hal, diri pun melow! Terisi dengan makan, bermain handphone, dan scroll drama furab [emot love ungu]. Sambil mendengar tamu diteras dengan suara yang kunilai sengaja mereka pelankan. Berniat supaya tidak menganggu sepertinya, tebakku. Aktivity ambis yang berencana ku lanjut malam itu pun, terjeda. Laptop ku biarkan begitu saja. Baru berani memutuskan keluar kamar, setelah kondisi kembali senyap. Tamu pulang. Mencuci muka dengan facial wash gantle ku. Lanjut memakai moisturizer. Seharusnya lebih dulu produk essence ku. Tapi pikiran rasanya kosong. Lupa. Tak masalah. Bercermin melihat diri dengan hasil apply produk yang tidak seberapa banyak malam ini. Dan.. Ohiya, bersama aktivity sebelumnya. Sebenarnya ada fake scenarios yang sedang ku bayangkan ntah dengan tujuan apa. Momen disaat membangun c...