Tidak ada yang benar-benar selesai. Memulai sesuatu dengan maksud nantinnya sebenarnya hanya untuk mengakhiri. Mengakhiri yang sebenarnya hanya menutup satu pintu untuk kemudian melanjutkan membuka pintu-pintu lainnya. Mulai lagi, akhiri lagi, dan begitu seterusnya. Merasa “Yes” usai menyelesaikan sesuatu untuk setelahnya menghela napas kembali menyambut kesibukan baru. Entah memang baru atau sebenarnya hanya kelanjutan dari kisah sebelumnya.Sebelumnya, saya pun sibuk dengan pikiran sendiri. Lelah sama rutinitas yang rasanya tiada habisnya. Kesibukkan, tanggungjawab, kewajiban dan lain sebagainya menjadi bagian yang terus melekat disetiap perjalanan. Hingga kemudian saya melihat dan tertarik pada salah satu tweet seseorang dengan akun yang telah terverifikasi. Nago Tejena, namanya. Dari bio twitternya tertulis beliau seorang psikolog klinis, dan sering berkhotbah tentang hidup manusia, katanya haha. Okey Adapun dalam akun twitternya itu ia mengetweet:
“Kamu tidak akan pernah benar-benar siap melakukan sesuatu..
Kamu tidak akan pernah benar-benar selesai melakukan sesuatu..
Yang ada hanyalah proses”.
Umur 20an sebagai jiwa-jiwa yang telah lebih banyak memikirkan hidup memang selalu mudah tertampar sama quotes dan pesan-pesan kehidupan via sosial media. Berbicara pesan kembali menegaskan bahwa sebenarnya kita memang perlu untuk selalu diingatkan. Kadang banyak hal yang sebenarnya kita tahu tapi sebenarnya kita tidak sepenuhnya sadar akan hal itu sendiri. Kita tahu berjalan panjang ialah untuk mencapai finish sesuai yang dinginkan. Tapi kita lupa bahwa untuk mencapai finish itu ada energi yang harus disiapkan, ada lelah yang akan menyerang, bahkan ada perasaan yang harus dijaga. Iya, kita terutama saya sering lupa bahwa cape adalah bagian dari perjalanan.
Hari ini, sejak jam 11 siang saya menunggu dosen untuk ttd revisi yang kemudian baru setelah 4 jam berikutnya yakni sekitar pukul 3 sore baru berhasil mendapatkan ttd yang diinginkan. Empat jam itu ibaratnya menjadi jeda antara saya ketika memulai tujuan dengan saya yang kemudian mengakhiri dengan telah menyelesaikan keperluan saya itu hari ini. Simpelnya, jika sebelumnya mengetahui realitanya akan seperti itu mungkin bisa saja ada alternatif lain yang kubangun seperti ‘daripada menunggu sia-sia mending nanti sekitar pukul 15:00 saja saya datang ke kampus untuk memulainya sehingga tidak perlu menunggu waktu lama untuk akhirnya mendapatkan ttd revisi'.
Sayangnya, percayalah cara kerja kehidupan di bumi sebagai planet ke-3 terdekat matahari ini tidak akan sehambar dan sekaku mengikuti skenario rencana harian kita. Dalam 4 jam menunggu itu saya tertawa, berbincang, curhat, basa-basi hingga saling mengeluh dengan teman-teman lainnya. Dalam waktu yang kukatakan jeda itu menjadi 4 jam saya dapat saling bertukar pikiran, saya dapat bertanya ke teman yang tahap skripsinya sudah lebih maju, saya lebih membangun keakraban dengan beberapa teman, saya dapat mengetahui bahwa sejak pukul 11 siang perpustakaan kampus sudah dapat saja tutup untuk istirahat, bahkan saya dapat tahu ternyata relationship teman-temanku juga memiliki stugglenya masing-masing (?)
Poinnya disini ialah bahwa kehidupan cinta dalam tiap relationship itu memang banyak yang ruwet, eh sori-sori salfok. Maksudnya ya… Ya bahwa akan selalu ada hal-hal kecil yang menyelingi kita dalam proses untuk suatu terget kita. Hal-hal kecil itu akan menjadi bumbu-bumbu pengalaman yang sebenarnya menjadi informasi baru bagi kita yang dapat saja mempengaruhi kita dalam mengambil keputusan di hari esoknya atau bahkan menjadi jawaban tak terduga dalam kebingungan kita akan sesuatu dihari-hari yang telah lalu. 4 jam itu menjadi informasi baru bagi salah satu teman saya bahwa judul penelitian sebelum sidang proposal sebaiknya jangan diubah terlebih dahulu mengikuti sebagaimana yang tertera di SK Judul yang sebelumnya telah dikeluarkan. Alhasil, dalam 4 jam itu menjadi bagian proses dari teman saya memanfaatkan waktu untuk memperbaiki ulang proposal penelitian sebelum menghadap ke dosen yang dituju.
Yaa, nyatanya apa yang selama ini kuanggap jeda antara memulai dan mengakhiri bukan mutlak sebagai bentuk lain dari henti dan semata menunggu. Melainkan bisa saja berwujud sebagai wadah dengan mesin waktu yang banyak menawarkan berbagai kesempatan-kesempatan baru. Kesempatan untuk memperbaiki, mempertimbangkan pilihan, hingga kesempatan untuk kembali lebih meyakinkan diri sendiri. Kita namakan ia Proses.
Proses itu ya memang menjadikan suatu perasaan menunggu, cape, bosan bahkan rasa ingin menyerah sebagai sahabat karibnya. Memang tidak adil jika kita hanya mengakui suatu proses itu tanpa mau ikut terlibat dengan perasaan-perasaan dari sahabatnya itu.
"Jadi kita tidak boleh mengeluh karna cape, karna bosan, bahkan karna dikecewakan dalam menjalani suatu proses?" Tanya Si Kertas A4 Sidu polos, sepolos kertas putihnya.
"Yaa tidak apa-apa juga kalau mengeluh sih," jawabku tepat disampingnya melalui ketikan keyboard laptopku.
Ya tidak tahu jawaban benar versi sejuta umatnya ya terkait pertanyaan di atas itu. Tapi, menurutku tak apa mengeluh atau mungkin lebih tepatnya tak apa kita menghela napas sambil berkata ‘capeeeee’. Tak apa. Untuk berikutnya kan kita tahu kita tetap akan melanjutkan diri berproses dan sebenarnya hanya sebatas mengeluarkan penat dengan berkata ‘capeeeee’ itu. Kasian Si Cape kalau dianggap sebagai kata yang untuk diucapkankan pun rasanya salah. Kadang memang kita harus mengakui cape untuk kemudian mengalihkan diri dengan merenggakan badan beristirahat sambil rebahan dan scroll timeline Instagram, twitter, dan mengecek stories sosmed teman-teman.
So, jika dalam 24 jam saja memberikan jatah 4 jam dengan pengalaman dan berbagai kesempatan maka bagaimana dengan 20 jam lainnya?
Pict by pexels.com
Komentar
Posting Komentar